ASPEK NILAI-NILAI BUDAYA MAKASSAR DALAMKARAKTER TOKOH PERTUNJUKAN TEATER “THE EYES OF MAREGE”

ABSTRAK
Pertunjukan teater The Eyes of Marege kolaborasi Teater Kita Makassar dengan Australian Performing Exhange dipentaskan pada OzAsia Festiva.l Penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis fokus masalah: nilai-nilai budaya Makassar dalam karakter tokoh pada pertunjukan tersebut. Data dari jenis penelitian kualitatif ini diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Hasil data dideskripsikan dan dianalisis berdasarkan pendekatan kebudayaan dan kajian semiotika teater. Adapun pola relasi antartokoh dianalisis dengan menggunakan model aktantial Greimas.
Hasil menunjukkan bahwa karakter tokoh dalam pertunjukan teater The Eyes of Marege yang mewakili suku-bangsa Makassar mengandung nilai-nilai budaya Makassar, antara lain: nilai-nilai siri’ na pacce, nilai-nilai tau- sipakatau, nilai-nilai pangngadakkang, dan nilai-nilai islam.
Kata kunci: nilai budaya


PENDAHULUAN
Fungsi sastra sebagai sarana hiburan dan pendidikan dapat diperoleh melalui sebuah karya sastra seperti novel, cerpen, puisi, drama atau film. Saat ini, salah satu karangan yang banyak diminati adalah pertunjukan. Pertunjukan banyak diminati karena tidak hanya dibaca dan didengar, tetapi juga dapat dilihat sehingga mudah untuk dipahami. Oleh karena itu, pertunjukan mudah mempengaruhi pola pikir seseorang dengan cerita yang disampaikan, sehingga pemilihan pertunjukan yang baik sangat diperlukan. pertunjukan yang baik merupakan pertunjukan yang dapat menginspirasi penonton, dapat dilihat dari bentuk cerita yang disampaikan kepada penonton. Biasanya penonton akan banyak terpengaruh hal yang ditampilkan, seperti adegan, gaya busana, dan bahasa. 

Pulau Bimo, Arhemland, Northern Territory, 1905, di sudut kiri perahu Makassar yang bersandar di pantai, Djakapurra Munyarryun, putera kepala suku Yolngu (Aborigin) menyanyikan lagu Dji-li- li, Dji-li-li, Dji-li-li yang diperuntukkan kepada suku Makassar yang sedang berlayar dengan perahu menuju ke pantai itu. Lagu yang hanya bernada gumam menyayat itu, diiringi musik dedgeridoo (alat musik tiup yang terbuat dari batang kayu) khas Marege yang dimainkan oleh Leon Winambi anak suku Aborigin.

Dari arah laut, orang-orang Makassar, Ahmad, Nud, dan Kasim, berlayar ditiup angin kencang. Mereka saling memanggil di laut. Mereka menyanyikan lagu Makassar. Lalu, tiba-tiba musik khas Makassar berubah menjadi musik khas Aborigin. Tarian “penjemputan” dari suku Aborigin dengan properti dayung bergerak. Orang-orang Makassar di atas perahu saling berteriak bersahut-sahutan dengan bahasa daerahnya: Panaungi sombalaka! Buangi jangkaraka! Layar telah dirunkan dan jangkar telah dibuang. Mereka pun turun ke pantai sambil menari dalam gerak-gerak ganrangbulo dan diiringi musik khas Makassar.


METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini mendeskripsikan dan menganalisis fokus masalah: nilai-nilai budaya Makassar dalam karakter tokoh pada pertunjukan teater The Eyes of Marege kolaborasi Teater Kita Makassar dengan Australian Performance Exchange. Terkait dengan fokus penelitian, maka penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Dalam mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan teknik observasi partisipatif, yaitu peneliti pernah ikut berpartisipasi dan terlibat langsung dalam proses kolaborasi. Data lain yaitu berupa hasil wawancara yang pernah dilakukan oleh peneliti dengan penulis naskah, sutradara, dan aktor pendukung. Adapun dokumentasi berupa naskah drama, tulisan-tulisan di surat kabar, dan rekaman pertunjukan dalam bentuk diskografi DVD. Data yang telah diperoleh melalui observasi partisipasi, wawancara, dan dokumentasi, dideskripsikan dan dianalisis berdasarkan pendekatan kebudayaan dan kajian semiotika teater. Adapun pola relasi antartokoh dianalisis dengan menggunakan model aktantial Greimas.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan struktur teks dramatic (cerita, tokoh, dialog) dan teks pertunjukan (set panggung, pemeranan, karakter, kostum, properti, musik dan lagu) dalam kajian semiotika teater, pertunjukan teater The Eyes of Marege merupakan bentuk drama derision (drama absurd) atau bisa juga disebut drama surealis. Drama ini terdiri dari dua babak, dan pergantiannya hanya ditandai dengan munculnya pemeran Dhalawal (pembawa berita) dan munculnya para pemeran nelayan Makassar di atas bagang (yang menyimbolkan perahu). Pergantian adegan ditandai oleh pergantian atau perubahan musik yang dimainkan oleh pemusik di bawah bangang. Bagang mempunyai multi- fungsi. Secara semiotis, bagang mempunyai makna ikonis, indeksikal, maupun simbolis, bergantung pada pemeran dalam memanfaatkannya sebagai sistem tanda yang memiliki kesadaran situasi komunikatif, signifikan, atau tidak. Demikian halnya dengan beberapa property yang digunakan terutama pada property yang digunakan oleh pemeran tokoh dari Makassar.

Sebagai sistem tanda, tokoh-tokoh, pemeran dan karakter juga sering berubah- ubah, tergantung dari suasana dan peristiwa yang dibangun. Drama ini digarap di atas panggung seperti teater rakyat Makassar. Semua pemain dan pemusik berada di atas panggung dengan posisinya masing-masing.
Ketika perubahan tokoh dan pemeran, para pemain mengganti kostum di atas panggung dan dapat dilihat langsung oleh penonton. Setting Makassar dan Yolngu lewat set, property dan para tokoh di atas panggung dibiarkan nampak dan menyatu.

Perubahannya yaitu pada pergantian babak dan adegan melalui pemeranan, dialog, musik, nyanyian dan tarian.

Bahasa dan dialog yang digunakan di atas panggung lebih dominan bahasa Inggeris dan Indonesia seseuai dengan latar peristiwa dan kepada siapa dialog ditujukan. Sedang bahasa Makassar, Yolngu, dan Arab dipakai selain digunakan lewat dialog, juga digunakan lewat nyanyian atau lagu dengan iringan musik dan tari.

Tahap penyelesaian yang merupakan puncak laku, klimaks atau saat yang menentukan, yaitu Pengadilan Makassar memutuskan hukuman 1 tahun penjara bagi Birramen. Sebelum menjalani hukuman, Birramen berkenalan dengan perempuan Makassar bernama Fatima dan mereka saling jatuh cinta. Selepas menjalani masa tahanan, Birramen dan Fatima menikah secara Islam. Ahmad mengantar Birramen kembali ke Pulau Bimo dan menemui Dhalawal, istrinya. Tiba di Pulau Bimo, mereka tidak bisa lagi berlabuh dan mendaratkan kakinya ke Marege. Sebab polisi-polisi perairan Australia menembaki mereka. Orang-orang Makassar dilarang berdagang dan menyelam mencari tripang. Hanya Birramen yang bisa turun ke pantai itu. Orang-orang Yolngu berkumpul di pantai itu bersama Birramen, Dhalawal dan Djandapurra dengan perasaan sedih, sementara orang-orang Makassar berlayar meninggalkan pantai kembali ke Makassar.

NILAI - NILAI BUDAYA MAKASAR
Wahid (2008:44-45) mengemukakan, bahwa nilai-nilai budaya mengandung nilai berguna benar (nilai kebenaraan), nilai-nilai keindahan (estetik), dan nilai-nilai agama (relegius). Nilai-nilai budaya ini, merupakan sesuatu yang tidak hanya sesuatu yang berwujud benda material saja, tetapi juga sesuatu yang berwujud benda abstrak. Sesuatu yang abstrak itu dapat mempunyai nilai yang sangat tinggi dan mutlak bagi manusia. Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai ini dijabarkan dalam bentuk kaidah atau ukuran, sehingga merupakan suatu perintah atau keharusan, anjuran, atau merupakan larangan yang tidak diinginkan.

Nilai-nilai budaya Makassar menurut Wahid (2008: 65) tidak terlepas dari konsep kebudayaan Makassar yang berlandaskan falsafah siri’ na pacce yang dipegang teguh pada setiap kata dan perbuatan. Siri’ (harga diri dan kehormatan keluaraga) dan harus ditegakkan bersama-sama secara timbal- balik Sedangkan pace (sedih, perih), rasa yang paling dalam untuk saling menyempurnakan niat baik. Matthes (dalam Rahim, 1992: 169) mencatat arti siri' dengan tujuh buah kata bahasa Belanda, yaitu beschaamd, schroomvallig, verlegen, schaamte, eergevoel, schande, wangunst, dan mengikut urutannya diterjemahkan sebagai: amat malu, dengan malu, malu sebagai kata sifat atau kata keadaan, perasaan malu menyesali diri, perasaan harga diri, noda, aib dan dengki.

Menurut Rahim (1992: 169), siri' disejajarkan kedudukannya dengan akal pikiran yang baik karena bukan timbul dari kemarahan, dengan peradilan yang bersih karena tidak dilakukan dengan sewenang-wenang, dengan perbuatan kebajikan yang tidak menjelekkan sesama manusia secara tak patut.

NILAI-NILAI BUDAYA MAKASAR DALAM KARAKTER TOKOH
Pada bagian ini akan dikemukakan nilai-nilai budaya Makassar yang dipresentasikan oleh tokoh (watak, peran) berdasarkan teks dramatik (cerita, tokoh, dialog) dan teks pertunjukan teater (set panggung, pemeranan, karakter, kostum, properti, musik dan lagu) dalam pertunjukan teater The Eyes of Marege kolaborasi Teater Kita Makassar dengan Australian Performance Exhange.

NILAI-NILAI ISLAM
Pertunjukan The Eyes of Marege sarat dengan nilai-nilai Islam, yang melengket dalam tokoh Ahmad. Nilai agama Islam turut mengatur dan mempengaruhi pertunjukan ini di tengah adegan bernuansa kebudayaan asli. Nilai-nilai Islam tersebut, antara lain: pada babak 1 adegan 2, tersirat dalam dialog Birramen yang mengisahkan orang-orang Makassar di atas perahu, seorang muadjin memanjat tiang mencari arah Barat. Dia memanggil Allah mereka yang Esa. Pada babak 1 adegan 2 tersirat dalam dialog Ahmad bahwa ia tidak takut. Allah Maha Besar. Pada babak 1 adegan 5, tersirat dalam dialog Ahmad bahwa Islam harus ditegakkan.
Ahmad mengajarkan kepada Birramen tentang moralitas kesesuaian yang berupa anjuran, larangan, hak, dan keawajiban yang mendominasi tindakan manusia berdasar nilai-nilai budaya dan agama Islam.


PENUTUP
Pertunjukan teater The Eyes of Marege kolaborasi Teater Kita Makassar dengan Australian Performing Exhange sarat dengan nilai-nilai budaya Makassar. Nilai- nilai tersebut dipresentasikan melalui teks dramatic (cerita, tokoh, dialog) dan teks pertunjukan (set panggung, pemeranan, karakter, kostum, properti, musik dan lagu). Melalui simbol atau sistem tanda pada teks dramatic dan teks pertunjukan menunjukkan adanya nilai-nilai budaya Makassar, antara lain: nilai-nilai siri’ na pacce, nilai-nilai tau- sipakatau, nilai-nilai pangngadakkang, dan nilai-nilai islam. Nilai-nilai budaya Makassar ini memperkuat teks dramatic dan teks pertunjukan teater The Eyes of Marege sehingga tema tentang persaudaraan, kegotong-royongan.


DAFTAR PUSTAKA
Aston, Elaine and George Savona, 1991. Theater As Sign-system: A Semiotic of Text and Performance. London and New York: Routledge.
Effendy, Ridwan. 2005. I Tolok Karya Rahman Arge – Studi Hubungan Antar Teks. Makassar: Intermedia Publishing kerjasama Pustaka Pena Press Makassar.

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Kajian Seni “Pertunjukan Lenong Denles. Teater tahun 2021

Kumpulan Cerpen Karya Anak Bangsa