ANALISIS STRUKTUR, TEKSTUR DAN PERMASALAHAN POLITIS WAYANG BEBER JAKA KEMBANG KUNING
ABSTRAK
Hasil
penelitian ini berguna untuk melihat bentuk pementasan serta persoalan yang
melingkupi sebuah bentuk kesenian bernama Wayang Beber Panji Jaka Kembang
Kuning yang berada di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dari penelitian ini kita
berharap agar keberadaan kesenian ini tidak akan hilang meski harus mengikuti
perkembangan selera masyarakat yang terus berubah. Salah satu usaha yang
ditempuh adalah menuliskan struktur dan tekstur pertunjukan ini.
Dengan mengetahui struktur dan tekstur serta persoalan lain yang melingkupi, maka generasi penerus pertunjukan ini tidak terbentur pada persoalan yang menyebabkan pertunjukan ini semakin dijauhi masyarakat. Dalang atau penyaji pertunjukan bisa menggunakan hasil penelitian ini sebagai pedoman untuk menciptakan pertunjukan yang lebih menarik agar tidak selalu terjebak pada bentuk pertunjukan yang membosankan. Akibatnya penonton akan lebih mudah menikmati dan memahami pertunjukan seni tersebut. Akhirnya Wayang Beber sebagai pertunjukan akan tetap eksis karena mampu hadir dalam konteks masyarakatnya.
Kata kunci: Struktur, tekstur, stagnasi, wayang beber, konteks
PENDAHULUAN
Untuk menjadikan Wayang Beber yang
berwujud dua dimensi menjadi sebuah karya tiga dimensi perlu dilakukan
transformasi ke dalam sebuah pertunjukan. Selama ini sang seniman bercerita
secara lisan atau bertutur, cara ini dilakukan secara turun temurun. Tradisi
lisan dapat diartikan sebagai kebiasaan atau adat yang berkembang dalam suatu
komunitas masyarakat yang direkam dan diwariskan dari generasi ke generasi
melalui bahasa lisan. Dalam tradisi lisan terkandung kejadian–kejadian sejarah,
adat istiadat, cerita, dongeng, peribahasa, lagu, mantra, nilai moral, dan
nilai keagamaan, seperti halnya Wayang Beber ini. Perkembangan tradisi lisan
terjadi dari mulut ke mulut sehingga menimbulkan banyak versi cerita. Tradisi
lisan mencakup beberapa hal, yakni (1) yang berupa kesusastraan lisan, (2) yang
berupa teknologi tradisional, (3) yang berupa pengetahuan folklore di luar
pusat-pusat istana dan kota metropolitan, (4) yang berupa unsur-unsur religi
dan kepercayaan folklore di luar batas formal agama-agama besar, (5) yang
berupa kesenian folklore di luar pusat-pusat istana dan kota metropolitan, dan
(6) yang berupa hukum adat (Hutomo, 1991).
Setelah
Mbah Mardi (seorang dalang Wayang Beber pewaris) meninggal sempat beberapa
waktu belum ada penerusnya secara berkesinambungan, sehingga terjadi polemik
perebutan artefak antara anggota keluarga sendiri. Sampai saat ini, Mbah Mardi
dianggap merupakan satu-satunya dalang Wayang Beber di Pacitan yang juga
memiliki Wayang Beber warisan leluhurnya. Menurut penuturan keluarganya, Wayang
Beber yang dimilikinya ini adalah warisan leluhur turuntemurun yang merupakan
hadiah dari Raja Brawijaya. Wayang Beber Pacitan saat ini identik milik ahli
waris Ki Sarnen Gunacarita. Di mata anak-cucu Ki Sarnen, artefak Wayang Beber
yang satu satunya ada di Pacitan itu adalah pusaka keluarga. Mereka amat
mengeramatkan dan tidak sembarang orang bisa melihatnya (Sutyastomo, 2013, p.
59).
Silsilah
pemilik sekaligus dalang dari Wayang Beber adalah sebagai berikut:
- Naladerma - Singononggo - Dipoleksono
- Nalongso - Trunodongso - Sumardi
- Citrowongso - Gondoleksono - Posetiko
- Gondoyuto - Poleksono - Gunocarito/Sarnen
Mbah
Mardi menjadi dalang sejak tahun 1982 dan meningal dunia pada tahun 2014 lalu.
Namun, justru lebih banyak daerah luar kota Pacitan yang masih menggelar Wayang
Beber ini. Wayang Beber cukup populer di manca negara, misalnya di Jepang,
Belanda, dan Perancis. Seorang ilmuwan Perancis juga pernah meneliti bahan yang
dipakai untuk mewarnai gulungan kertas Wayang Beber yang ternyata berasal dari
getah-getahan, tutur Supani (salah seorang anggota keluarga mbah Mardi yang sekarang
meneruskan tradisi mementaskan Wayang Beber ini).
Cerita
dalam Wayang Beber sendiri mulai mendapat perhatian yang khusus bagi pemerhati
seni pertunjukan. Pada konteks tertentu penyaji cerita mendapat tantangan untuk
membawakan cerita sehingga bisa dinikmati masyarakat saat ini. Melalui
pertunjukan Wayang Beber itu cerita di dalamnya diuji daya tariknya. Begitu
peristiwa teater dikembalikan ke kondisi semula, maka konsep kepengarangan
individual (penulis drama) juga ditantang, sebab sebuah peristiwa teater
menghendaki kolaborasi pemain-pemain, sutradara, staf teknis, dan sebagainya
yang kesemuanya berperan memberikan kontribusi ke penciptaan peristiwa teater
itu sendiri (Sahid, 2008, p. 28). Penulis drama dalam hal ini bukan saja
pelukis Wayang Beber akan tetapi juga sang dalang itu sendiri dengan
menggunakan lisannya secara langsung saat pementasan.
Kesadaran
generasi muda untuk melestarikan bentuk kesenian ini lumayan tinggi, namun
karena terbentur dengan aturan tradisional tersebut maka menjadi sulit bagi
generasi penerus untuk memainkannya. Oleh karena aturan dalam pementasan
kesenian tertutup maka perlu kiranya dibuat sebuah gambaran yang jelas mengenai
bagaimana tata cara pementasan Wayang Beber. Jika telah ditentukan aturan dan
dramaturgi pementasannya maka akan mudah bagi masyarakat seni untuk
memainkannya. Karena sebuah kesenian merupakan identitas bagi pendukungnya,
maka masyarakat akan melihat bahwa kesenian ini sudah menjadi bagian mereka
sendiri dengan sedikit banyak budaya yang melingkupinya. Konteks di mana sebuah
karya diciptakan tidak dapat dipisahkan dari karya itu tanpa merampok identitas
seninya, maka pemahaman konteks menjadi syarat bagi pengertian wajar arti karya
tersebut. Karya-karya seni memiliki daya sebuah teks, sejauh orang dapat
membacanya. (Hausteller, 2015, p. 103). Pesan yang terkandung dalam karya seni
ini terkandung dalam cerita maupun bentuk pertunjukannya di mana segala unsur
permainannya menyerap kebiasaankebiasaan yang dimiliki masyarakat di mana
kesenian itu berada. Sang dalang mau tidak mau seringkali menggunakan bahasa
dan dialek yang tidak asing bagi lingkungan dimana dia berada.
TINJAUAN PUSTAKA
George R. Kernodle dalam bukunya
Invitation to The Theater membahas tentang aspek-aspek pertunjukan dan bagaimana
seseorang menciptakannya. Sebuah kwalitas pertunjukan tidak bisa dilepaskan
dari kejelian sang creator dalam memandang segala unsur penyusun sebuah karya
seni. Bagaimana seorang seniman menyusun setiap elemen pertunjukan yang akan
membuat penonton memahami serta menikmati pertunjukan tersebut. Pertunjukan tak
bisa lepas dari penonton sebagai pihak yang akan menerimanya. Bagaimana elemen
pertunjukan akan berpengaruh terhadap seluruh pertunjukan apabila tidak diukur
terlebih dahulu dalam mencampurkannya menjadi satu kesatuan yang utuh dari
sebuah permainan. Pemilihan unsur-unsur artistik serta cara menggabungkannya
tentu tak bisa dilepaskan dari kepekaaan sang creator karya seni sehingga
penonton tidak akan melupakan pertunjukan tersebut dan tentu saja akan menjadi
sebuah kesan tersendiri di masyarakat, menjadikannya karya yang akan
ditempatkan dihati pemirsanya. Karya seni yang berangkat dari dua dimensi
menjadi tiga dimensi tentu membutuhkan penyikapan serta kiat-kiat tersendiri.
Maka dalam kesenian Wayang Beber Jaka Kembang Kuning ini nantinya akan
ditemukan beberapa persoalan yang harus dihadapi.
Dalam
kaitannya dengan masalah Dramaturgi, Goffman menyebut bahwa “ketertiban
interaksi” (interaction order) meliputi struktur, proses, dan produk interaksi
sosial. Ketertiban interaksi muncul untuk memenuhi Kebutuhan akan pemeliharaan
“keutuhan diri”, seperti inilah pemikiran kaum interaksionis umumnya. Inti
pemikiran Goffman adalah “diri” (self), yang dijabarkan oleh Goffman dengan
cara yang unik dan memikat yaitu Teori Diri Ala Goffman (Mulyana, 2004, p.
106).
Fokus
pendekatan dramaturgis adalah bukan apa yang orang lakukan, bukan apa yang
ingin mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukan, melainkan bagaimana mereka
melakukannya. Berdasarkan pandangan Kenneth Burke bahwa pemahaman yang layak
atas perilaku manusia harus bersandar pada tindakan. Dramaturgi menekankan
dimensi ekspresif atau impresif kegiatan manusia. Burke melihat tindakan
sebagai konsep dasar dalam dramatisme. Burke memberikan pengertian yang berbeda
antara aksi dan gerakan. Aksi terdiri dari tingkah laku yang disengaja dan
mempunyai maksud, gerakan adalah perilaku yang mengandung makna dan tidak
bertujuan. Masih menurut Burke bahwa seorang dapat melambangkan simbol-simbol.
Seseorang dapat berbicara tentang ucapanucapan atau menulis tentang kata-kata,
maka bahasa berfungsi sebagai kendaraan untuk aksi. Karena adanya kebutuhan
sosial masyarakat untuk bekerja sama dalam aksiaksi mereka, bahasapun membentuk
perilaku.
Dramaturgi menekankan dimensi ekspresif atau impresif aktivitas manusia, yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena perilaku manusia bersifat ekspresif inilah, maka perilaku manusia bersifat dramatik.
Goffman mendalami dramaturgi dari segi sosiologi, menggali segala macam perilaku interaksi yang kita lakukan dalam pertunjukan kehidupan kita sehari-hari yang menampilkan diri kita sendiri dalam cara yang sama dengan cara seorang aktor menampilkan karakter orang lain dalam sebuah pertunjukan drama. Wayang Beber merupakan bentuk ekspresi dari perilaku masyarakat yang digambarkan. Cara yang sama ini berarti mengacu kepada kesamaan yang berarti ada pertunjukan yang ditampilkan.
Goffman mengacu pada pertunjukan sosiologi. Pertunjukan yang terjadi di masyarakat untuk memberi kesan yang baik untuk mencapai tujuan. Tujuan dari presentasi dari diri – Goffman ini adalah penerimaan penonton akan manipulasi. Apabila seorang aktor berhasil, maka penonton akan melihat aktor sesuai sudut yang memang ingin diperlihatkan oleh aktor tersebut. Aktor dalam hal ini adalah dalang Wayang Beber, sehingga akan semakin mudah untuk membawa penonton mencapai tujuan dari pertunjukan tersebut.
Ini dapat dikatakan sebagai bentuk lain dari komunikasi. Karena komunikasi sebenarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Apabila di dalam komunikasi konvensional manusia berbicara tentang bagaimana memaksimalkan indera verbal dan non-verbal untuk mencapai tujuan akhir komunikasi agar orang lain mengikuti kemauan kita, maka dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita mau. Perlu diingat kembali bahwa dramatugis mempelajari konteks dari perilaku manusia dalam mencapai tujuannya dan bukan untuk mempelajari hasil dari perilakunya tersebut. Dramaturgi memahami bahwa dalam interaksi antar manusia ada “kesepakatan” perilaku yang disetujui yang dapat mengantarkan kepada tujuan akhir dari maksud interaksi sosial tersebut. Memainkan beberapa peran dalam Wayang Beber dan mengkomunikasikannya kepada masyarakat merupakan salah satu cara yang dapat mengacu kepada tercapainya sebuah kesepakatan tertentu tersebut.
Satu kelompok masyarakat dengan nilai, norma, tradisi, adat, dan budaya yang sama akan mempunyai peninggalan masa lampaunya. Dalam masyarakat yang belum mengenal tulisan jejak-jejak masa lampaunya, akan disebarluaskan dan diwariskan secara turun temurun kepada generasi berikutnya secara lisan sehingga menjadi bagian dari tradisi bertutur (lisan).
Tradisi lisan mencakup segala hal
yang berhubungan dengan sastra, bahasa, sejarah, biografi, dan berbagai
pengetahuan, serta jenis kesenian lain yang disampai kan dari mulut ke mulut.
Jadi, tradisi lisan tidak hanya mencakup cerita rakyat, teka-teki, peribahasa,
nyanyian rakyat, mitologi, dan legenda sebagaimana umumnya diduga orang, tetapi
juga berkaitan dengan sistem kognitif kebudayaan, seperti sejarah, hukum, dan
pengobatan. Tradisi lisan adalah “segala wacana yang diucapkan atau disampai
kan secara turun-temurun yang meliputi lisan dan yang beraksara” dan diartikan
juga sebagai “sistem wacana yang bukan beraksara.”. Tradisi lisan tidak hanya
dimiliki oleh orang lisan saja. Implikasi kata “lisan” dalam pasangan
lisan-tertulis berbeda dengan lisanberaksara. Lisan yang pertama (oracy)
mengandung maksud ‘keberaksaraan bersuara’, sedangkan lisan kedua (orality)
mengandung maksud kebolehan bertutur secara beraksara. Kelisanan dalam masyarakat
beraksara sering diartikan sebagai hasil dari masyarakat yang tidak terpelajar;
sesuatu yang belum dituliskan; sesuatu yang dianggap belum sempurna atau
matang, dan sering dinilai dengan kriteria keberaksaraan, Pudentia (1999, p.
32).
Dalam tradisi lisan, peranan orang
yang dituakan seperti kepala desa atau suku, ketua adat sangatlah penting.
Mereka diberi kepercayaan oleh kelompoknya untuk memelihara dan menjaga tradisi
yang diwariskan secara turun temurun.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif, di dalamnya akan dicantumkan poin-poin penting mengenai prosesi persiapan pementasan Wayang Beber hingga usai. Penggunaan metode ini dinilai lebih tepat karena di dalamnya terdapat banyak data yang perlu didokumentasikan sebagai referensi pembentukan dramaturgi pementasan.
- Sampel
Di dalam pengambilan sampel ini teknik yang dipergunakan
adalah “nonprobability purposive sampling”, yaitu teknik pengambilan sampel
yang didasarkan pada kondisi-kondisi atau karekteristik tertentu yang khusus
(necessary condition) yang telah ditetapkan oleh penelititi (Dantes: 2012: 46).
Maka sampel akan diambil dari beberapa pihak, Paling tidak dari empat kelompok
masyarakat. Yang pertama adalah pelaku dan pemegang kesenian yaitu lingkungan
keluarga Mbah Mardi sebagai Dalang Wayang Beber. Yang kedua adalah dari
pemerintah daerah dalam hal ini bagian kebudayaan sebagai instansi yang
bertugas memperhatikan segala peristiwa budaya di daerahnya. Yang berikutnya
adalah seniman daerah yang berniat mengembangkan kesenian ini. Sedangkan yang
terakhir adalah masyarakat sebagai pengamat atau pihak yang akan menerima
produk kesenian ini.
Sebagaimana pendapat bahwa sampel adalah obyek dari
populasi yang diambil melalui teknik sampling, yaitu cara-cara mereduksi obyek
penelitian dengan mengambil sebagian saja yang dianggap representatif terhadap
populasi.
- Instrumen
Instrumen yang dipergunakan berupa proses persiapan
pementasan dan pementasannya, daftar pertanyaan, serta dokumentasi audio visual.
- Jenis Penelitian
Data kualitatif
diperoleh dengan cara melakukan:
1) Wawancara
dengan keluarga dan kerabat Mbah Mardi sebagai pewaris kesenian Wayang Beber.
Dari sana akan digali persoalan persoalan yang melatarbelakangi keberadaan
Wayang Beber dahulu dan saat ini.
2) Rekaman
foto-foto proses persiapan Wayang Beber dan saat pengambilan data wawancara
dengan keluarga Mbah Mardi.
- Variabel
Obyek penelitian ini adalah hasil survei, wawancara, dan
rekaman, maupun foto-foto wawancara dan Wayang Beber Pacitan.
- Prosedur Pelaksanaan
Dalam penelitian ini peneliti mengikuti metode
pengumpulan data yang merupakan suatu cara yang digunakan atau dipakai untuk
memperoleh data yang dipakai untuk memecahkan masalah yang akan diteliti. Dalam
hal ini metode yang dipilih harus sesuai dan mempunyai alasan pemakaian yang
kuat. Metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Studi
Pustaka
Data mengenai keberadaan Wayang Beber Pacitan bisa
diperoleh dari buku serta hasil penelitian para peneliti terdahulu semisal
desertasi. Beberapa kisah tentang Wayang Beber ini ditulis dalam sebuah
manuskrip baik berupa tembang atau serat. Beberapa penulis sudah pernah
meneliti sehingga layak untuk menjadi bahan pertimbangan.
2) Teknik
Wawancara dan Observasi
Sebelum dan sesudah melakukan pengamatan perlu dilakukan
tanya jawab atau wawancara terhadap berbagai pihak yang berkaitan. Menurut
Ratna (2010, pp. 222- 223), wawancara melibatkan dua komponen, pewawancara
yaitu peneliti itu sendiri dan orang-orang yang diwawancarai. Secara khusus,
informan dan responden adalah individu-individu yang aktif, bukan Pasif, memahami
situasi sesuai dengan horizon harapannya, dengan masa lampau dan masa kininya
hal ini untuk mengetahui sejauh mana mereka menangkap fenomena pertunjukan yang
disajikan sehingga membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam memaknai
peristiwa pertunjukan Wayang Beber tersebut. Sutrisno Hadi (1980, p. 136),
menjelaskan bahwa observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan
sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki dan tidak hanya terbatas pada
pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung.
3) Mendeskripsikan
Proses Penelitian
Mendeskripsikan suatu proses kegiatan kesenian
berdasarkan apa yang terjadi di lapangan sebagai bahan kajian lebih lanjut
untuk menemukan dan mengenali kekurangan dan kelemahan pertunjukan sehingga
dapat ditentukan upaya penyempurnaannya.
Menganalisis dan menafsirkan suatu fakta, gejala, dan
peristiwa pertunjukan tersebut yang terjadi sebagaimana adanya dalam konteks
ruang dan waktu serta situasi lingkungan peristiwa kesenian itu secara alami.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis
data kualitatif yang disajikan secara deskriptif. Menurut Moleong (2009: 248)
analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan cara
mengorganisasikan data, memilah-milah data menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan
apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang
lain.
Tahap terakhir adalah menyusun hipotesis berkenaan dengan
konsep dan prinsip berkesenian berdasarkan data dan informasi yang terjadi di
lapangan (induktif) untuk kepentingan pengujian lebih lanjut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis
Struktur
Dalam pertunjukan Wayang Beber Jaka
Kembang Kuning mempunyai kerangka cerita yang digunakan oleh dalang untuk
menyampaikan isi dan pesan moral. Cerita tidak digambarkan melalui tulisan
namun melalui gambar yang ditorehkan oleh pelukis wayang pada media berupa
kertas. Satu gulung kertas cerita berisi 4 adegan (jagong). Kerangka cerita
termasuk struktur yang menyusun pertunjukan tersebut, struktur merupakan
komponen utama, dan merupakan (unity of action) dalam drama (Satoto, 2012, p.
38).
Dalam setiap adegan mempunyai tensi
dramatik tersendiri yang merupakan bagian bangunan sebuah cerita drama yang
terstruktur. Secara keseluruhan struktur merupakan komponen yang paling utama,
dan merupakan (unity of action) dalam drama (Satoto, 2012, p. 38).
- Tema
Struktur utama yang perlu kita lihat adalah tema atau
gagasan utama dalam sebuah cerita. Jalinan cerita secara runtut dari awal
sampai akhir sebagaimana penulis naskah lakon menciptakan untuk menyuguhkan
persoalan hidup manusia, baik kehidupan lahiriyah maupun kehidupan batiniah,
yaitu pikiran (cita), perasaan (rasa), dan kehendak (karsa), (Satoto 2012:39),
dalam hal ini terlukis dalam gambar Wayang Beber di keempat gulungannya.
Tema dalam Wayang Beber Jaka Kembang Kuning ini adalah
romantika percintaan Dewi Sekartaji dan Jaka Kembang Kuning. Liku-liku kisah
cinta seorang putri Kerajaan Kediri yang menolak dijodohkan dengan seorang
tidak dicintainya. Sang putri terpaksa melarikan diri agar kehormatan orang
tuanya tetap terjaga karena perjodohan yang harus dihadapi mempunyai konsekwensi
berat pada ketenteraman Kerajaan Kediri karena lelaki yang dijodohkan adalah
seorang raja yang bersifat angkara murka ingin menguasai negerinya dengan
kekerasan. Dalam hal ini Sekartaji merupakan sosok perempuan pemberontak
sekaligus bertanggung jawab pada negerinya selaku seorang putri raja Namun
begitu sebagai seorang anak manusia ia juga memiliki rasa cinta dan rindu akan
kebebasan.
- Alur atau Plot
Jalinan yang sambung menyambung dari awal sampai akhir
dan menjadi sebuah kesatuan cerita merupakan salah satu unsur bangunan
dramatik. Alur atau plot bisa disebut metafora aksi yang mengikuti pola baik
literal maupun figuratif dari kehidupan nyata. Pola ini mungkin berupa
perjuangan menuju akhir (finish) antara tokoh hero dalam memerangi kejahatan,
(Cahyaningrum, 2012, p.169). Diawali dari kepergian Sekartaji lalu pertemuan
dengan Jaka Kembang Kuning, dilanjutkan dengan peperangan memperebutkan
mempelai, yang diakhiri dengan kemenangan salah satu pihak, merupakan jalinan
cerita yang lurus dan sambung menyambung. Semua merupakan penyusunan
insiden-insiden yang terjadi (Kernodle, 1978, p. 265). Sehingga dapat dikatakan
alur cerita ini linier.
Pada cerita Wayang Beber Panji Jaka Kembang Kuning terdapat
beberapa urutan peristiwa yang mengandung tensi permainan yang berbeda-beda
atau disebut struktur dramatik yang menurut Aristoteles disebut: eksposisi,
komplikasi, klimaks dan resolusi.
a) Eksposisi
Pada fase eksposisi diceritakan dalam gulungan pertama jagong
satu sampai dengan enam. Di sini diceritakan tentang Sekartaji yang sudah
menjadi kekasih Panji Asmarabangun putra Raja Jenggala, melarikan diri dari
istana karena menolak untuk dijodohkan dengan Prabu Klana. Maka dibuatlah
sayembara untuk menemukan Sekartaji kemudian Panji Asmarabangun menyamar
sebagai rakyat biasa datang ke kerajaan untuk mengikuti sayembara itu.
Sementara utusan raja atau Prabu Klana yang bernama Kebo Lorodan gagal melamar
Sekartaji karena menghilang. Dalam pelarian tersebut akhirnya Sekartaji
ditemukan oleh Panji Asmarabangun yang menyamar sebagai rakyat biasa bernama
Jaka Kembang Kuning. Jaka Kembang Kuning lalu mengabarkan penemuannya melalui
utusannya, Tawang Alun, ke Raja Kediri.
b) Komplikasi
Komplikasi dimulai saat Raja Klana menyampaikan mahar
perkawinan untuk Sekartaji melalui utusannya yang bernama Retno Tegaron namun
ditolak oleh Retno Mindaka (pembantu Sekartaji) hingga berakhir pada
perkelahian kedua pihak. Sementara itu berita penemuan Sekartaji yang dibawa
oleh Tawang Alun bocor ke telinga pihak Raja Klana. Maka Raja Klana mendahului
bertemu dengan Raja Kediri untuk menagih lamarannya. Ditengah pertemuan itu
datanglah Tawang Alun menyampaikan laporannya. Akhirnya Raja Kediri
memututuskan untuk menggelar perang tanding antara kedua belah pihak
memperebutkan Sekartaji. Peristiwa ini digambarkan dalam jagong tujuh sampai
sepuluh.
Puncak ketegangan terjadi pada saat digelarnya peperangan
antara pihak Prabu Klana dan Jaka Kembang Kuning. Perang tanding terjadi dua
kali dan diakhiri dengan perang besar. Perang tanding pertama dimenangkan oleh
pihak Prabu Klana yang diwakili oleh Kebo Lorodan mengalahkan Tawang Alun.
Perang tanding dua dimenangkan oleh Jaka Kembang Kuning mengalahkan Kebo
Lorodan. Di tengah peperangan berlangsung, Prabu Klana menyelinap menemui
Sekartaji dengan menyamar sebagai Gandarepa (Kakak Sekartaji). Namun hal itu
gagal dan membuat dirinya mengambil keputusan untuk perang melawan kediri. Maka
terjadilah perang besar sehingga Raja Klana tewas di ujung keris Tawang Alun.
c) Resolusi
Bagian ini disebut resolusi dimana diceritakan bahwa
wanita-wanita dari pihak Raja Klana diboyong ke Kediri lalu setelah persidangan
di Istana Kediri maka perkawinan Sekartaji dan Panji Asmarabangun
dilangsungkan. Sekartaji akhirnya diboyong oleh Panji Asmarabangun (Jaka
Kembang Kuning) ke Jenggala. Ini merupakan bagian terakhir atau juga bisa
disebut pemecahan masalah.
- Penokohan
Semua tokoh-tokoh yang
ada dalam cerita menurut gambar pada wayang beber adalah: Raja Kediri, Panji
Asmarabangun (Jaka Kembang Kuning), Raja Klana, Dewi Sekartaji, Senopati Kediri
Sedah Rono, Patih Arya Deksa Negara, Tawang Alun, Nala Derma, Tumenggung
Cona-Cani, Ni Cona CaniKi Demang Kuning, Retno Mindaka (Adik Raja Kediri),
Retno Tegaron (Adik Raja Klana), Ni Pengilon (Dayang-Dayang Retno Mindaka), Ni
Mancung (Dayang Dayang Retno Mindaka), Gandarepa (Putra Raja Klana), Senopati
Sedahrama (Panglima Raja Kediri), Kili Suci (Kakak Raja Kediri).
Dalam gambar Wayang
Beber tokohtokoh bisa saling berseberangan. Tokohtokoh tersebut dapat dibedakan
menjadi beberapa golongan antara lain protagonis (tokoh yang membawa ide atau
tema yang menjadi pusat perhatian), antagonis (tokoh yang menentang ide yang
dibawa tokoh protagonis), tritagonis (tokoh penengah atau perantara protagonis
dan antagonis) dan peran pembantu (peran yang tidak secara langsung terlibat
dalam konflik, tetapi diperlukan guna menyelesaikan cerita), (Harymawan 1998,
p. 22), seperti terlihat pada tabel di bawah ini.
|
Protagonis |
Antagonis |
Tritagonis |
Pembantu |
|
Pak (Jaka
Kembang Kuning) |
Raja Klana |
Raja Kediri |
Ni Pengilon
(Dayang-Dayang Retno Mindaka) |
|
Sekartaji |
Gandarepa
(Putra Raja Kelana) |
Patih Arya Deksa Negara |
Ni Mancung (Dayang-Dayang
Retno Mindaka) |
|
Tawang Alun |
Retno Tegaron
(Adik Raja Kelana) |
Ki Demang Kuning |
Gendarepa
(Putra Raja Kelana) |
|
Retno Mindaka
(Adik Raja Kediri |
|
Tumenggung Cona Cani |
Senopati
Sedahrama |
|
|
|
Ni Cona Cani |
Kili Suci
(Kakak Raja Kediri) |
|
|
|
|
Nala Derma |
Tabel
penggolongan tokoh berdasar posisi konflik dalam cerita
- Latar atau Setting
Setting atau latar cerita yaitu bagian dari teks dan
hubungan yang mendasari suatu lakuan (action) terhadap keadaan sekeliling.
(Satoto, 2012, p. 55). Wayang Beber Jaka Kembang Kuning ini berlatar belakang
tempat di Kerajaan Kediri di Jawa. Sedangkan waktu berlangsungnya kejadian
menurut cerita diperkirakan sekitar abad ke12 M. Setting merupakan jalinan
setiap bentuk cerita.
Analisis
Tekstur
Tekstur pertunjukan teater mencakup
dialog, musik suasana, dan spektakel. Tekstur adalah yang dirasakan langsung
penonton atau yang datang kepadanya lebih kepada rasa, apa yang telinga dengar
(dialog), apa yang mata lihat (spektakel), dan apa itu perasaan sebagai suasana
selama pertunjukan, dalam pengalaman dari dalam (mood). Tekstur merupakan
sarana dalam membawakan cerita, sehingga hal itu tergantung pada selera dan
aspek estetika tersendiri (Kernodle, 1978, p. 256).
Pada lakon Wayang Beber Jaka Kembang
Kuning, dialog diucapkan oleh satu orang saja yaitu sang dalang. Dalam menyampaikan
dialog dipergunakan bahasa Jawa halus dan mempunyai nilai sastra tinggi. Selain
menggunakan dialog, sang dalang juga menggunakan nyanyian atau tembang untuk
menggambarkan peristiwa cerita. Selain itu, ruang atau waktu yang tidak
terlihat secara detail dalam gambar akan diceritakan secara lisan maupun lagu.
Dalam beberapa peristiwa dalam adegan yang mempunyai tekanan dramatik
tersendiri, dalang justu mempergunakan silent atau juga bisa dengan iringan
musik tertentu.
Musik hanya diputar dengan nada
monoton (menggunakan gamelan slendro), perbedaan terjadi hanya pada perubahan
tempo saja. Dalam adegan-adegan yang membutuhkan penekanan emosi tertentu, maka
tempo permainan musik bisa melambat atau justru cepat . Suasana permainan lebih
cenderung pada suasana yang membosankan namun dinilai penuh aura mistis. Hal
tersebut terjadi karena iringan musik yang monoton, tembang dengan nada
monoton, pencahayaan yang minim sekali (hanya dengan satu buah lampu blencong),
gambar yang relatif stagnant, ditambah lagi ubarampe atau sesajen yang terdiri
dari jadah jojoh yang ditumpangi ayam bekakak (utuh) bakar, diletakkan di depan
area permainan (Wayang Beber digelar).
Seluruh pertunjukan yang bersifat
audio visual berjalan dengan penuh khidmat tanpa adanya peristiwa yang bersifat
mencairkan suasana, semisal lawak, lagu hiburan, dialog dengan audience, dan
sebagainya. Dapat dikatakan bahwa pertunjukan hanya berlaku satu arah saja.
Dalang aktif bercerita sedangkan penonton secara pasif menyaksikannya. Tidak
seperti wayang kulit atau kesenian lain dimana dalang bisa berinteraksi
langsung, baik dengan sesama performer maupun penonton.
Problematika
Pementasan
Wayang Beber dengan pola pementasan
yang sedemikian monoton tidak mampu memperoleh perhatian yang banyak dari
penonton. Selain itu, pertunjukan ini sangat bernuansa eksklusif karena ada
unsur politis yang dibangun pelaku seninya sendiri. Masyarakat pendukungya
menganggap Wayang Beber merupakan pusaka desa yang dikeramatkan, sehingga tidak
sembarang orang boleh mementaskan selain trah (keturunan) dalang Wayang Beber
itu sendiri. Wayang Beber tidak lagi berfungsi sebagai sarana hiburan semata,
namun telah berubah menjadi sarana ritual tersendiri. Wayang Beber difungsikan
untuk mewujudkan nazar (KBBI: janji pada diri sendiri), misalnya apabila
anggota keluarganya sakit dan bisa disembuhkan maka akan nanggap Wayang Beber.
Selain itu Wayang Beber Jaka Kembang Kuning juga dipergunakan untuk sarana
ritual pada bagian tertentu di acara bersih desa tempat Wayang Beber tersebut
berada. Maka dapat dilihat bahwa kesenian ini selain menjadi sarana ritual
otomatis juga merupakan sarana hiburan dan sebaliknya, bahkan secara politis
telah dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan secara ekonomi.
In
ancient Athens, the great theatre festivals were ritual, art, sports-like
competition, and popular entertainment simultaneously. Today, sport are both
live and media entertainment combining competition, ritual, and big business.
(Schechner, 2002, p. 26).
Akibat dari perlakuan yang terlampau
tertutup tersebut, maka Wayang Beber tidak bisa berkembang. Sedangkan tidak
semua keturunan dalang mempunyai minat dan bakat untuk mengelola dan
memainkannya. Akibat dari pementasan yang dipaksakan secara politis dan tanpa
memperhatikan kwalitas tersebut antara lain:
1.
Beberapa tembang menjadi kehilangan
nada-nada tertentu secara bertahap dibandingkan pendahulunya,
2.
Peristiwa yang terlukis di kertasnya
mulai banyak yang tidak dikisahkan oleh sang dalang. Beberapa alasan yang
dikemukakan oleh Supani diantaranya karena etika yang tidak pas dg konteks dia
berada serta kapasitas dalang yang kurang inovatif dalam membawakannya misalnya
masih membaca teks contekan.
3.
Dalang yang baru tidak mampu mengucapkan
kata-kata dengan sastra yang baik, sebaik pendahulunya. Karena bahasa yang
kurang familiar baginya dan bagi penonton.
4.
Gulungan Wayang Beber semakin rusak
karena tidak boleh diduplikasi ulang. Meskipun telah diduplikasi, pihak
keluarga tidak mengakui sebagai pusaka sebagaimana gulungan asli yang
diwariskan turuntemurun, Padahal kondisinya semakin memprihatinkan karena telah
lapuk dimakan cuaca dan lamanya usia sehingga gambar semakin kabur dan kertas
banyak yang robek.
5.
Musik tidak berkembang baik dari jumlah
alat yang dipergunakan maupun jenis gending atau irama yang dibawakan.
6.
Beberapa peristiwa justru menimbulkan
polemik dalam keluarga dalang itu sendiri terutama apabila salah seorang
anggota keluarga mampu memainkannya sedangkan anggota lain tidak. Sehingga bisa
mendatangkan keuntungan secara finansial dari mementaskan Wayang Beber
tersebut. Hal ini menumbuhkan rasa iri pada anggota keluarga yang lain.
Meski demikian telah dibuat
kesepakatan agar Wayang Beber dipegang secara bergilir oleh seluruh kuturunan
dalang pada tiap periodesasi tertentu, karena tidak semua anggota mampu
memainkannya. Uang hasil pementasan yang dilakukan oleh anggota keluarga yang
bisa mendalang harus disisihkan dan dibagikan kepada anggota keluarga yang lain
secara merata. Setiap kali Wayang Beber kembali kepada anggota keluarga yang
bisa mendalang, maka anggota keluarga itu akan memainkan Wayang Beber di muka
umum (mulih).
SIMPULAN
Wayang Beber Jaka Kembang Kuning
merupakan seni tradisi lisan yang mempunyai alur tangga dramatik seperti tangga
dramatik Aristotelian. Pada setiap peristiwa cerita terdapat tekanan-tekanan
yang dinamis dengan ditandai puncakpuncak kecil tangga dramatik di setiap
gulungan cerita secara progresif. Meskipun cerita tersebut masih bisa terbilang
bernuansa hitam-putih serta intrik-intrik permasalahan yang tergolong
sederhana. Tokoh-tokoh di dalamnya mempunyai karakter yang jelas dan
menggambarkan sosok jahat dan baik, keras dan lembut, dan sejenisnya.
Namun demikian cerita dalam gulungan
hanyalah sebuah “teks mati” yang seharusnya bisa dihidupkan melalui tangan sang
dalang agar menjadi pertunjukan menarik. Pada kenyataan yang terjadi, beberapa
pementasan yang dilakukan dalang kurang mampu menyajikan seluruh dinamika
cerita secara utuh. Dalam membawakan pertunjukan sang dalang terjebak pada
aturan-aturan sosial maupun kultural yang melingkupinya sehingga menghambat
kreatifitasnya. Terlihat pada pertunjukan yang tidak menarik dan cenderung
membosankan. Dalang hanya mewarisi cara yang telah dilakukan oleh pendahulunya
tanpa berusaha mendekatkan pada konteks kekinian di mana dalang dan penonton
berada. Mungkin saja teknik dan bahasa jawa kuno yang dipakai dalang terdahulu
cocok pada zamannya, namun generasi saat ini sudah banyak yang tidak
memahaminya. Meskipun sudah digunakan alat musik sebagai pendukung pementasan,
namun penggunaannya belum maksimal dan cenderung terjebak pada pola-pola yang
berulang-ulang tanpa progresi tertentu yang jelas. Permainan iramanya tidak
memberikan tekanan-tekanan yang dibutuhkan cerita dalam mendramatisasi pertunjukan.
Fungsi ritual yang membuat
masyarakat mensakralkannya akan semakin untur seiring perkembangan tehnologi
informasi yang deras dan cepat. Keharusan menghadirkan sesaji dan syarat-syarat
ritual tertentu sebelum permainan dimulai membatasi ruang gerak bagi orang yang
akan menyelenggarakannya. Bagi generasi saat ini akan sulit untuk menemukan
sarana ritual yang lengkap karena sudah mengalami kelangkaan di pasar.
Hal lain yang masih menjadi
penghambat bagi kesenian untuk maju adalah adanya nuansa politis di seputar
keluarga pewarisnya. Hal ini menjadikan kesenian tersebut semakin terpinggirkan
karena tidak boleh dimainkan secara bebas oleh pihak di luar keluarga
pewarisnya. Apabila Wayang Beber ini bisa dimainkan oleh banyak pihak (tidak
hanya oleh ahli waris/keluarga saja) tentu ide-ide akan banyak mengalir di
dalamnya yang akan memperkaya permainannya. Secara singkat, selain secara
estetis ternyata juga terdapat hal-hal yang bersifat politis serta kultural
yang menghambat kesenian Wayang Beber Jaka Kembang Kuning untuk berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Dantes,
N. (2012). Metode Penelitian. Penerbit Andi.
Hadi,
S. (1980). Metodologi Riset. Penerbit Fakultas Psikologi Universitas Gadjah
Mada. Harymawan. (1998). Dramaturgi. Remaja Rosdakarya.
Hauskeller,
M. (2015). Seni-apa itu?: posisi estetika dari Platon sampai Danto. Penerbit Kanisius.
Hutomo,
S. S. (1991). Mutiara yang terlupakan: Pengantar studi sastra lisan. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia, Komisariat
Jawa Timur.
Kernodle.
G. R. (1978). Invitation to The Theatre. Harcourt Brace Jovanovic.
Kutha
Ratna, N. (2011). Teori. Metode, dan Teknik Penelitian Sastra—dari Strukturalisme hingga Poststrukturalisme Perspektif Wacana Naratif Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.
Moleong.
L. J. (1997). Metodologi Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Mulyana.
D. (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif. Rosda Karya.
Pudentia,
M. P. S. S. (Ed.). (2015). Metodologi kajian tradisi lisan (edisi revisi).
Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Ratna,
N. K. (2019). Metodologi penelitian kajian budaya dan ilmu sosial humaniora
pada umumnya. Pustaka Pelajar.
Sahid.
N. (2008). Sosiologi Teater. Prasista.
Satoto.
S. (2012). Analisis Drama & Teater I, Analisis Drama & Teater II.
Ombak.
Sawega,
A. M. (Ed.). (2013). Wayang beber: Antara inspirasi dan transformasi. Bentara Budaya Balai Soedjatmoko.
Schechner,
R. (2002). Performance Studies, An Introduction. Routledge.
Sutyasmono, Y. (2013). Wayang Beber, Antara Inspirasi dan Transformasi. Bentara Budaya Balai Soedjatmoko.