KRITIK KAJIAN SENI PERTUNJUKAN TEATER
Domba-domba Revolusi Karya “ B. Soelarto
Domba-Domba Revolusi adalah sebuah drama karya B. Soelarto yang diterbitkan pertama kali dalam majalah Sastra No. 8 Tahun II (1962) dan dinyatakan sebagai drama yang memperoleh Hadiah Pertama majalah Sastra Tahun 1962.
Drama tersebut lalu di bentuk menjadi sebuah novel dengan judul Tanpa Nama: Domba-Domba Revolusi yang diterbitkan oleh Penerbit Nusantara, Jakarta, tahun 1964. Kemudian, tahun 1967 diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka sebagai cetakan ke-2 dan tahun 2001 sebagai cetakan ke-3. Pada tahun 1988 kisah ini diangkat sebagai cerita sinetron TVRI.
Di dalam teater yang di mainkan oleh sebuah sanggar yang benama “ Teater petra” dari Jakarta yang di suguhkan dalam Daring karena situasi yang tidak memeungkinkan di karena adanya sebuah virus yang melanda semua kalangan dan dunia, termasuk seni teater.
Domba-domba revolusi, adalah sebuah cerita dengan latar pada zaman revolusi yang mengisahkan tentang empat orang lelaki yang berlindung di sebuah losmen yang pemilik nya adalah seorang wanita.
Para lelaki yang berlindung adalah, 1. seorang penyair yang kisahkan menjadi seorang penulis di saat itu sedang memantau situasi yang terjadi di saat itu, untuk di jadikan bahan berita serta tulisan yang akan di buat sebagai karyanya nanti,tapi dalam peran sang penyair tetapi dalam suatu karakter yang di perankan tokoh ini sang penyair tidak menampakan sebuah karakter bagaimana seorang penyair yang kata-katanya banyak terdapat kata-kata indah.
Sang penyair yang kurang dalam membentuk karakter untuk menjadikan tiruan atau menunjukan bahwa dia seorang penyair, dan tidak menyerupai karakter dari penyair yang sebenarnya.
Menurut Faruk (2014:47-48) menyatakan Plato berpendapat bahwa dunia dalam karya sastra merupakan tiruan terhadap dunia kenyataan yang sebenarnya juga merupakan tiruan terhadap dunia ide.Dengan demikian, apabila dunia dalam karya sastra membentuk diri sebagai sebuah dunia sosial,dunia tersebut merupakan tiruan terhadap dunia sosial yang ada dalam kenyataan sebagaimana yang dipelajari oleh sosiologi.
Teori mimesis adalah karya seni sebagai tiruan masyarakat. Tokoh-tokoh yang memprakarsai teori mimesis adalah Plato dan Aristoteles. Yang dimaksud dengan karya seni sebagai tiruan disini yaitu dalam pembuatan KS (karya sastra) pengarang meyampaikan ide-idenya berdasarkan kondisi di masyarakat DN (dunia nyata) yang diaplikasikan ke dalam bentuk karya sastra. Kejadian di dunia nyata menjadi sumber gagasan untuk mengarang karya sastra yang tentunya hal ini disampaikan pengarang sebagai nasehat untuk masyarakat agar dapat menjalani kehidupan lebih baik dari yang dicontohkan dalam karya sastra.
2. peran sang pemilik losmen adalah seorang wanita yang kuat akan pendiriannya, yang tidak mau di pengaruhi oleh siapapun termasuk sang penyair yang mengajaknya pergi terlihat dari dialognya saat penyair mengajaknya pindah dan pergi dari losmennya
penyair : ,” kini giliran mu, sudah siap”
pemilik losmen :”siap untuk apa”
peyair : “ kita pergi”
pemilik losmen :”Bung aku tidak dapat meninggalkan tempat ini”
Dari kutipan dialog tersebut bahwa dalam pengharapan sang penyair agar dapat membawa pergi gadis pemilik losmen itu untuk pindah dari losmen tersebut yang mengkwatirkan keselamatannya, tetapi sang pemilik losmen tidak mau pergi dengan jelas dialognya “:”Bung aku tidak dapat meninggalkan tempat ini”
Tetapi sang pemilik losmen juga sama mengkwatirkan sang penyair yang terbukti dialognya saat sang penyair akan pergi meninggalkan losmennya “Selamat tinggal semoga Tuhan selalu bersamamu”dan setelah sang penyair pergi pemilik losmen masih mengkhawatirkanya terlihat dari dialognya “ Selamatlah engkau” yang bertujuan bahwa sang penyair selamat dalam perjalanan.
Karakter yang di perankan dalam tokoh wanita si pemilik losmen sangatlah baik dan sangat menjiwai perannya sebagai wanita yang tegar dan tidak akan takut walau nyawa taruhannya untuk tetap berada di losmen itu,
Tiba-tiba datanglah dua penghuni losmen pedagang dan petualang, pedagang yang meresahkan tentang uang nya yang di berikan kepada pemerintah yang takut tidak di bayarkan, karena si pedagang telah memberikan banyak barang yang di berikan pemerintah dengan pengharapan agar dia mendapat untung, tetapi sang petualang ada rencana yang tersembunyi di pikiranya terlihat dari mimic wajah yang dia perankan dalam tokoh sang petualang, dan dengan cara dia mengungkapkan kata-kata yang membuat sipedagang menjadi takut, karena mendengar ucapan si petualang jelas dengan kutipan dialog sipetualang danpedagang,
Sipetualang : “pak apakah uang jutaan rupiah setelah sana mata uangnya sudah di kebiri atau mata uang nya sudah di ganti dengan pembayaran yag lain”
“bukan hanya jutaan rupiah untuk kehilangan tetpi nyawa anda sendiri akan ikut hilang”
Dari dialog tersebut bahwa petualang menakut-nakuti sipedagang yang merasa resah karena telah mengeluarkan banyak barang untuk pemerintah, yang menurutnya barang yang di setor ke pemerintah tidak akan di ganti dan nyawanya pun hilang karena sipetualang telah memberikan sugesti yang kurang baik.
Dan terbukti bahwa setelah tiga lelaki itu pergi meninggalkan loasmen yaitu, sipetualang,pedagang,dan pejabat, lalu dua lelaki tersebut mati di tembak oleh sekutu tinggallah si petualang yang kembali lagi ke losmen dengan wajah yang senang karena dia juga mendapatkan harta dari pedagang tersebut, seperti surat-surat penting dan sebuah kunci brankas. Jadi kejahatan sipetualang terlihat jelas sudah dengan kebahagian nya karena pejabat dan pedagang mati di berondong sekutu.
Lalu datang serdadu mencari petualang yang menawarkan seorang gadis untuk dikencaninya, karena pemilik losmen tau gerak-gerik sipetualang tetapi pemilik losmen pura-pura baik yang akhirnya dapat membunuh sipetuang dan serdadu tadi, yang di anngap mereka berdua adalah penghianat bangsa serta pemilik losmen tadi juga tidak mau di anggap pahlawan oleh bangsanya sendiri karena berhasil membunuh penjajah dan penghianat tersebut.
Dari paparan cerita teater yang berjudul “Domba-Domba Revolusi” baik dari cara dialog sang pemain actor dan aktris yang sebagian besar cukup menghayati perannya masing-masing.
Sipemilik losmen itu sangat baik sekali peran tokoh yang ia perankan dialog, penghayatan,dan pendalaman karakter tersebut sehingga para penonton daring bisa memasuki di dalam cerita tersebut, latar alur mundur dimasa perjuangan menjadikan kita untuk mengingat masa perjuangannya.
Kekurangannya karena penontonnya melalui daring, dan tidak bisa menikmati langsung serta tampilan di daring tidak berwarna jadi kurang begitu menukmati latar tempatnya serta tata panggung yang kurang jelas
Makna dari teater ini adalah, janganlah kita menjadi orang yang merugikan orang lain dan janganlah kita memiliki barang yang bukan milik kita untuk kita rebut serta kita harus tolong menolong dalam situasi apapun agar semua dapat hidup bedampingan dan bermasyarakat.