MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK MELALUI DONGENG DIPAUD & TK AN-NUR SERPONG KOTA TANGERANG SELATAN
LAPORAN AKHIR PKM
UNIVERSITAS PAMULANG
Oleh: Ilhamudin, Cholifia Nur Rahmah, Detri Eftiani, Suhendra, Renjani Soraya, Irwansyah
Email: ilhammudin18@gmail.com, cholifianur5@gmail.com, detrieftiani849@gmail.com, karebethbaab@gmail.com, renjaniso12@gmail.com, awakimed@gmail.com
ABSTRAK
Dongeng dapat menstimulasi keinginan anak untuk
membaca. Mereka akan tertarik dengan dongeng yang lain setelah mendengar sebuah
dongeng. Setelah mendengar satu dongeng, seringkali anak kemudian tertarik
untuk mendengar dongeng yang lain. Kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk
memperkenalkan buku sebagai salah satu “teman” yang mengasyikkan. Sering-sering
mengajak anak ke toko dan membiarkan ia memilih bukunya sendiri, akan semakin
membantu menumbuhkan minat baca pada anak. Manfaat lain dari mendongeng adalah
membantu anak-anak memperkaya kosakata yang mereka miliki. Selain itu,
mendongeng secara tidak langsung menjalin hubungan orang tua dengan anak menjadi sangat dekat. Penelitian
ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif yaitu untuk meningkatkan
minat baca anak PAUD & TK An-Nur di Yayasan Anwarulqulub yang berlokasi di
Kota Tangerang Selatan. Minat baca anak-anak saat ini belum
menggembirakan. Peranan orang tua dan lembaga pendidikan sangat penting untuk
menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Untuk mewujudkannya diperlukan berbagai
upaya agar anak-anak memiliki budaya gemar membaca. Salah satu upaya untuk
menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak adalah dengan mendongeng. Pengembangan
minat baca yang baik secara teoritis harus dimulai sejak dini mungkin pada masa
anak-anak. Keluarga terutama orangtua mempunyai peranan yang sangat menentukan
dalam upaya mengembangkan perilaku gemar membaca pada diri anak-anak. Dalam hal
ini, fungsi keluarga bukanlah semat-amata hanya melakukan fungsi reproduksi
atau fungsi perlindungan, akan tetapi juga bertanggungjawab melakukan fungsi
sosial, termasuk di dalamnya mendidik dan mengarahkan anak agar memiliki jiwa
gemar membaca.
PENDAHULUAN
Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar
merupakan masa emas (Golden Age) sekaligus masa kritis dalam tahap kehidupan
manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan
masa yang tepat untuk meletakan dasar bagi kemampuan fisik, kognitif, bahasa,
sosial emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai agama. Sehingga
upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini harus dimulai agar
pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal.
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan
pada anak usia 0 hingga 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
atau stimulus pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan
informal.
Anak usia dini memerlukan banyak sekali informasi
untuk mengisi pengetahuannya agar siap menjadi manusia sesungguhnya. Dalam hal
ini membaca merupakan cara untuk mendapatkan informasi karena pada saat membaca
maka seluruh aspek kejiwaan manusia terlibat dan ikut serta bergerak. Hasilnya,
otak yang merupakan pusat koordinasi bekerja keras menemukan hal-hal baru yang
akan menjadi pengisi memori otak sekaligus menjadi bekal pertumbuhan (Adi
Susilo,2011:13).
Membaca merupakan cara belajar mandiri untuk dapat
memahami suatu pengetahuan. Pada dasarnya pengetahuan-pengetahuan yang ada di
dunia ini berawal dari imajinasi dalam pikiran manusia, yang kemudian akan
membentuk suatu teori. Imajinasi itu sendiri dapat berasal dari buku bacaan.
Dengan membaca akan meningkatkan daya pikir dan daya imajinasi otak manusia
serta mampu membuat masyarakat menjadi kreatif, kritis dan informatif. Salah
satu upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan cara menumbuhkan
minat membaca. Banyak orang yang menyebut “Buku adalah jendela dunia”, karena
dengan membaca buku ibarat kita sedang membuka jendela untuk melihat berbagai
keunikan yang terjadi hampir diseluruh penjuru dunia. Maka untuk memasuki dunia
dengan segala panoramanya, orang harus bersahabat dengan buku.
Menstimulasi minat baca anak lebih penting daripada
mengajarkan mereka membaca. Menstimulasi memberi efek menyenangkan, sedangkan
mengajar seringkali justru membunuh minat baca anak, apalagi bila
mengajarkannya dilakukan secara paksa (Musfiroh,2008:94). Secara psikologis,
efek dari memaksa anak untuk belajar membaca di usia dini seperti TK dan PAUD
dapat menimbulkan ketidaksukaan anak untuk membaca di masa depan serta
menghambat pertumbuhan otak kanan anak, sehingga dapat membunuh kreatifitas
anak.
Oleh sebab itu, menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan dapat memberi kesan pada anak bahwa mereka bisa menemukan sesuatu
yang menyenangkan dalam belajar. Metode sebaik apapun jika tidak didukung
dengan suasana yang menyenangkan akan menyebabkan rasa malas bagi anak untuk
belajar. Banyak metode-metode membaca yang rumit yang sering kali membuat anak
putus asa karena mereka merasa kesulitan dalam mempraktekannya, sehingga malah
menghilangkan optimisme dan minat baca anak.
Perlu diketahui bahwa terkadang minat baca terhambat
oleh beberapa hal yang terdapat dari lingkungan yang tidak mendukung dan juga
kurangnya fasilitas. Apalagi zaman sekarang pengaruh televisi, game online,dan
gadged lainnya yang jika tidak
dikontrol dan tidak ada pengawasan dari orang tua, maka dampak negatif yang
ditimbulkan akan sangat besar pada perkembangan anak.
Banyak aspek perkembangan yang sedang berkembang
pada anak usia dini, salah satunya adalah perkembangan bahasa. Perkembangan
bahasa memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan anak. Perkembangan
bahasa mencakup kemampuan menerima bahasa, mengungkapkan bahasa dan keaksaraan.
Menurut Depdiknas (2002:12), bagi anak usia 5-6 tahun tingkat pencapaian
perkembangan dalam mengungkapkan bahasa yang seharusnya dimiliki anak meliputi:
mampu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, menyebutkan kelompok gambar yang
memiliki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, menyusun kalimat
sederhana dalam struktur lengkap, memiliki lebih banyak kata-kata untuk
mengekspresikan ide pada orang lain, serta mampu melanjutkan sebagian
cerita/dongeng yang telah diperdengarkan.
Namun fakta yang terjadi tidak demikian. Menurut
hasil wawancara yang dilakukan di PAUD & TK An-Nur (Yayasan Anwarulqulub),
dari 36 siswa hanya 8 siswa yang mengalami tingkat pencapaian minat baca anak
belum sesuai dengan yang diharapkan. Sementara 28 siswa diantaranya belum
mencapai tingkat pencapaian perkembangan sebagaimana tersebut diatas. Anak
masih belum mampu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, dan hanya mampu
menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana. Dalam berkomunikasi secara lisan dan menyusun
kalimat sederhana pun anak masih belum lancar. Perbendaharaan kata yang
dimiliki anak masih terbatas sehingga anak masih mengalami kesulitan dalam
mengekspresikan ide atau mengutarakan pendapat.
Dalam menghadapi permasalahan diatas, anak supaya
dibiasakan untuk membaca karena dengan membaca anak akan mendapatkan banyak
informasi dan pengetahuan serta menambah pembendaharaan kosa kata anak. Oleh
sebab itu, minat baca perlu ditanamkan kepada anak sejak dini supaya hal itu
menjadi kebiasaan dan akan terus dibawa oleh anak sepanjang masa. Untuk
meningkatkan minat baca anak guru harus dapat memilih metode pembelajaran yang
sesuai, karena pemilihan metode pembelajaran yang tepat mempunyai andil besar
didalam meningkatkan kemampuan anak. Dalam menumbuhkan minat baca anak sejak
dini diperlukan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, sehingga
anak dapat termotivasi dan terangsang minat bacanya. Metode pembelajaran yang
menarik dan menyenangkan yang dapat digunakan adalah metode bercerita dengan
menggunakan buku cerita. Metode bercerita dengan menggunakan buku cerita ini
diharapkan dapat membangkitkan keinginan anak dalam meningkatkan minat bacanya.
Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan
seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang
apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah
dongeng yang diperdengarkan dengan cara penyajian yang menarik. Sumber dari hal
yang akan diceritakan bisa didapat dari buku atau dari yang lainnya. Bercerita merupakan
kegiatan yang dapat diterapkan bagi anak-anak yang akan berdampak pada
peningkatan minat baca anak, karena dalam bercerita anak dituntut untuk dapat
menceritakan kembali isi dari bacaan tersebut.
Dalam kegiatan bercerita sebaiknya anak-anak juga didorong
untuk menceritakan kembali apa yang telah dia ketahui dari buku yang telah
dibacanya atau yang telah dibacakan oleh guru. Dengan demikian, selain dapat
meningkatkan minat baca pada anak, proses bercerita yang demikian berperan
positif dalam meningkatkan dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Hal ini
juga akan melatih kemampuan mental dan kemampuan bicara anak, terutama di depan
orang banyak.
Berdasarkan uraian di atas tentang pentingnya
menanamkan minat baca pada anak, maka penulis melakukan penelitian di Yayasan
Anwarulqulub pada siswa-siswi PAUD & TK An-Nur Tahun Ajaran 2020/2021 yang
memiliki masalah dengan minat baca. Banyak anak yang belum memiliki minat untuk
membaca dan cenderung lebih suka bermainmain dan kurang semangat ketika guru
mulai mengajak untuk belajar membaca. Oleh sebab itu, diperlukan metode yang
tepat untuk menstimulasi anak guna meningkatkan minat baca pada anak. Metode
bercerita ini diharapkan dapat membantu guru dalam menstimulasi minat baca pada
anak. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengadakan penelitian
dengan judul “Meningkatkan Minat Anak Melalui Dongeng”.
Berdasarkan penjelasan diatas penulis menyusun
rumusan masalah yaitu apakah dongeng dapat meningkatan minat baca anak di PAUD
/ TK An-Nur dan bagaiman cara meningkatkan minat baca melalui dongeng anak di
PAUD / TK An-Nur. Selanjutnya tujuan pada penelitian ini adalah menjelaskan
dongeng dapat meningkatkan minat baca anak di sekolah PAUD & TK An-Nur dan
menjelaskan cara meningkatkan minat baca melalui dongeng anak di PAUD / TK
An-Nur.
METODE PENELITIAN
Dalam
rangka mengkaji permasalahan penelitian meningkatkan minat baca anak pada anak didik PAUD & TK di
Yayasan Anwarulqulub Kota Tangerang Selatan, maka dalam bab ini akan dijelaskan
metode yang digunakan dalam penelitian ini dari mulai jenis dan pedekatan
penelitian, sumber data, penentuan lokasi dan waktu penelitian, populasi dan
sampel, teknik pengumpulan data hingga menganalisis data.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian analisis deskriptif,
yakni penulis menjelaskan sesuatu seperti apa adanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu
penelitian dengan menganalisis obyek alamiah dimana peneliti sebagai instrumen
kunci dan menyajikan apa adanya.
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mengetahui lebih
mendalam bagaimana sekolah PAUD & TK di Yayasan Anwarulqulub Kota Tangerang
Selatan dalam meningkatkan minat baca anak didiknya. Dengan pendekatan kualitatif
ini peneliti diharapkan mampu menggali fakta-fakta yang ada dilapangan secara
apa adanya atau alamiah. Melalui penelitian model ini, peneliti nantinya akan
melakukan eksploratif terhadap suatu obyek yang dituju dengan memahami makna dibalik
data yang tampak sehingga nantinya dapat langsung berinteraksi sosial serta
memahami perasaan informan untuk dapat mengembangkan teori dan memastikan
kebenaran data.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Meningkatkan Minat Baca
Menceritakan dongeng pada anak adalah salah satu cara menumbuhkan
minat baca pada anak, itulah cara yang kita ambil dalam menumbuhkan minat baca
pada PAUD/TK Annur. di sana kita mengenalkan dongeng melalui cerita fabel,
yaitu cerita tentang seekor buaya yang memiliki sifat serakah,yang ingin
memakan apapun disana.
Kita melihat antusiasme anak-anak dalam mendengarkan cerita, ada yang
berteriak menirukan suara binatang, ada yang bertanya tentang hewan yang di
ceritakan bahkan ada yang maju kedepan untuk meragakan hewan tersebut.
Dengan menggunakan gambar-gambar hewan yang kami buat kami memciptaan
suasana yaang fun bagi anak-anak dalam belajarnya, kami memberikan pertanyaan –
pertanyaaan mengenai hewan tersebut, sebelumnya banyak sekali anak-anak yang
belum mengetahui macam hewan yang kami sebutkan, melalui gambar tersebut kami
mengenalkan hewan tersebut satu persatu sehingga mereka akhirnya mengetahui dan
mereka pun sangat antusias dalam menyebutkan nama-nama hewan-hewan tersebut.
Di tengah berdongeng kita menyisipkan huruf-huruf yang bisa mereka
kenali sehingga menjadi suatu kata, sebagai contoh sedang menceritakan sapi, di
situ kita meminta mereka untuk mengulang huruf S – A – P – I, seperti itu dan
seterusnya hinga mereka menyenangi membaca lewat cerita dongeng tersebut.
Anak-anak mengulang huruf demi huruf sehingga mereka tahu huruf apa
saja yang di gunakan oleh hewan-hewan yang kami ceritakan. Sambil menirukan
bunyi hewan tersebut mereka maju kedepan satu persatu menggunakan gambar
tersebut sebagai media nya, yang maju kedepan matanya di tutup lalu disuruh
memilih gambar hewan, lalu gambar yang telah di pilih mereka akan memperagakan
serta bersuara seperti hewan yang terdapat paada gambar.
Di akhir pertemuan kami mengevaluasi dengan cara memberi tebak-tebakan nama hewan serta huruf-huruf yang di gunakan untuk memanggil hewan tersebut, serta kami juga memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang kosakata-kosakata yang tadi kami sebutkan ketika mendongeng. Dan kami juga memberikan hadiah kepada anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami.
![]() |
| Bermain Tebak - tebakan |
![]() |
| Mendengarkan Dongeng |
Manfaat Mendongeng
Peningkatan minat baca hendaknya dimulai sejak usia dini, untuk
menanamkan kebiasaan. Salah satu cara meningkatkan minat baca adalah dengan
cara mendongeng. Budaya mendongeng untuk anak saat akan tidur sudah mulai
luntur dewasa ini. Padahal dengan mendongeng, kita dapat mengenalkan
nilai-nilai atau norma-norma dalam berkehidupan di bawah alam sadar anak-anak.
Melalui karakter yang ada dalam dongeng, anak-anak diajarkan tentang nilai
kebaikan, rasa empati, tolong menolong dan sebagainya. Dongeng adalah budaya
lisan yang disampaikan secara turun temurun yang berkembang di masyarakat.
Sebagai bentuk folklore, dongeng dapat membantu anak-anak untuk berimajinasi.
Dengan imajinasi anak-anak mampu berpikir kreatif dan belajar berkomunikasi
dengan orang lain.
Dongeng juga dapat menstimulasi keinginan anak untuk membaca. Mereka
akan tertarik dengan dongeng yang lain setelah mendengar sebuah dongeng. Pada
kesempatan ini kita dapat mengenalkan anak-anak bukubuku cerita yang berisi dongeng,
dengan begitu diharapkan akan menjadi suatu habituasi membaca. Setelah
mendengar satu dongeng, seringkali anak kemudian tertarik untuk mendengar
dongeng yang lain. Kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan
buku sebagai salah satu “teman” yang mengasyikkan. Sering-sering mengajak anak
ke toko dan membiarkan ia memilih bukunya sendiri, akan semakin membantu
menumbuhkan minat baca pada anak. Manfaat lain dari mendongeng adalah membantu
anak-anak memperkaya kosakata yang mereka miliki. Selain itu, mendongeng secara
tidak langsung menjalin hubungan orang tua dengan anak menjadi sangat dekat.
Untuk merealisasikan peningkatan minat baca melalui metode mendongeng,
maka telah disusun sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa PKM dan dosen
pendamping. Mahasiswa terlibat dalamkegiatan belajar mengajar di PAUD & TK
An-Nur dengan menyampaikan cerita-cerita rakyat yang dilanjutkan dengan
membahas nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. Kemudian diakhiri
dengan pemberian kuis untuk mengawal daya simak anak.
Strategi pembelajaran dengan menggunakan metode dongeng pada program
PAUD& TK merupakan salah satu metode yang efektif untuk mendidik anak usia
dini. Tujuannya untuk merangsang kemampuan anak berimajinasi, suka menyimak,
mendengarkan, memperhatikan lawan bicaranya, dan bisa menumbuh budaya baca pada
anak. Sebuah dongeng bisa merangkum berbagai fungsi, yaitu sebagai media
penyampai pesan dan nilai, penambah pengetahuan dan pengalaman batin, serta
membantu proses identifikasi diri dan perilaku anak.
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran melalui metode dongeng, anak
atau peserta didik diharapkan aktif dan kreatif sedangkan peran pendidik adalah
sebagai fasilitator, observer, motivator, dan evaluator. Artinya pendidik
berperan memberikan dukungan dan bimbingan mulai dari penataan lingkungan
(sebelum, selama, dan sesudah pembelajaran atau mendongeng) sampai pelaksanaan
dan evaluasi hasil. Pelaksanaan kegiatan mendongeng dengan menggunakan sebuah
gambar berbentuk hewan pada saat anak berkumpul, pendidik dapat mengkondisikan
anak agar tenang, menyanyikan lagu anak-anak dan bermain tepuk bervariasi.
Kami menyampaikan aturan main sebelum mendongeng dengan cara yang
menyenangkan, misalnya dengan meminta kesepakatan anak tentang aturan, sikap
dan perilaku anak pada saat mendengarkan dongeng. Pendidik bersama anak
menyepakati atau menetapkan aturan-aturan permainan.
Pendidik dapat menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tema dan isi
dongeng yang akan disajikan sesuai pengalaman anak.
Pendidik mengenalkan tokoh-tokoh dongeng agar anak dapat memahami
alur, isi, dan karakter masing-masing tokoh dongeng. Proses selama mendongeng
pendidik menyajikan dongeng sesuai dengan rencana pembelajaran atau skenario
yang telah disusun.
Kami memberikan anak untuk menyimak dan memahami isi dongeng dengan
melontarkan pertanyaan sederhana agar anak merasa dilibatkan dalam dongeng yang
disajikan. Pendidik melanjutkan kegiatan sambil memperhatikan sikap dan
perilaku anak saat didongengkan.
Kami menyampaikan hikmah yang dapat dipetik oleh anak sebagai wujud
penyampaian pesan moral kepada anak dari dongeng yang disajikan.
Kami memberi dukungan dan bimbingan berupa pertanyaan positif tentang
isi dongeng dan apa yang harus dilakukan anak dalam kegiatan sehari-hari baik
disekolah atau dirumahnya, memancing dengan pertanyaan terbuka untuk merangsang
perkembangan anak, serta memberikan bantuan pada anak yang membutuhkan. Dari
pelaksanaan kegiatan mendongeng dengan menggunakan alat bantu gambar ini
diterapkan guna untuk memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan dan
kecerdasan anak.
SIMPULAN
Minat baca anak-anak saat ini
belum menggembirakan. Peranan orang tua dan lembaga pendidikan sangat penting
untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Untuk mewujudkannya diperlukan
berbagai upaya agar anak-anak memiliki budaya gemar membaca. Salah satu upaya
untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak adalah dengan
mendongeng.
Pada dasarnya dongeng
mengandung nilai-nilai positif bagi kehidupan, karena didalamnya terkandung
tuntutan moral dan etika. Kegiatan mendongeng (bercerita) merupakan salah satu
upaya atau teknik untuk menumbuhkan minat baca pada diri anak-anak. Orangtua
atau kanggota keluarga lainnya maupun pihak-pihak lain dapat berperan sebagai penutur
dari buku-buku yang dibacanya dan sudah barang tentu materi dongeng disesuaikan
dengan tingkat perkembangan bahasa dan usia anak.
Kegiatan mendongeng akan
lebih efektif bilamana disampaikan atau diceritakan pada saat menjelang tidur,
pada saat-saat santai kumpul keluarga, atau dapat juga diberikan menjelang dan
sesudah pelajaran di kelas. Pembacaan dongeng harus dilakukan sedemikan rupa
sehingga anak-anak tersedot ke dalamcerita tersebut. Bila kegiatan tersebut
dilakukan secara baik, terus menerus, lambat laun akan timbul keinginan anak
untuk membaca sendiri buku-buku tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ani Sistarina. “Peningkatan Minat Baca dan Gemar Membaca.” Docplayer. Diakses 11 April 2021. (http://docplayer.info/43992061-Peningkatan-minat-baca-dan-gemarmembaca.html).
Artana, I Ketut . 1997. Masih Pentingkah Kita Mendongeng. Artikel pada Singa Manggala Singaraja, Bali , Edisi Mg.III-IV Februari 1997.
Artana, I Ketut. 1997. Mendidik Anak dengan Dongeng. Artikel pada Singa Manngala, Singaraja Bali, edisi Mg.III-IV Nopember 1997.
Bimo. 2011. Mahir Mendongeng. Yogyakarta: Pro-U Media.
Dantes, Nyoman, dkk. 2016. Pengembangan Buku Dongeng Berbasis Budaya Lokal untuk Memfasilitasi Pembelajaran Tematik dalam rangka Optimalisasi Pendidikan Sikap dan Literasi Dini.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama.
Hari Karyono. “Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini.” digilib.um.ac.id. Diakses 11 April 2021. (http://digilib.um.ac.id/index.php/Jurnal-PerpustakaanSekolah/menumbuhkan-minat-baca-sejak-usia-dini.html).
Harususilo, Yohanes Rnggar. (2018). 6 Manfaat Mendongeng untuk Anak. Diakses 12 April 2021. (https://edukasi.kompas.com/read/).
Kamah, Idris. 2002. Pedoaman Pembinaan Minat Baca. Jakarta: Perpustakaan RI
Koentjaraningrat. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Muhammad Yaumi. “Upaya Menumbuhkan Minat Baca Anak dalam Era Digitalisasi.” Scribd. Diakses 11 April 2021. (https://www.scribd.com/doc/32031005/Upaya-Menumbuhkan-MinatBaca- Anak-di-Era-Digitalisasi).
Savira Anchatya Putri. “Peningkatan Minat Baca Dan Budaya Baca Masyarakat: Upaya Forum Indonesia Membaca Dalam Bersinergi Menuju Masyarakat Melek Informasi.” (Skripsi, Universitas Indonesia, 2010). Diakses 12 April 2021. (https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20160927RB13S42pePeningkatan%20 minat.pdf).
Som, Witakania S. dkk. (2006). Sastra dan Minat Baca pada Siswa SMAN Tanjungsari. Laporan Penelitian DIPA PNBP. Jatinangor : Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.

