MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK MELALUI DONGENG DIPAUD & TK AN-NUR SERPONG KOTA TANGERANG SELATAN

 LAPORAN AKHIR PKM

UNIVERSITAS PAMULANG

Oleh: Ilhamudin, Cholifia Nur Rahmah, Detri Eftiani, Suhendra, Renjani Soraya, Irwansyah

Email: ilhammudin18@gmail.com, cholifianur5@gmail.com, detrieftiani849@gmail.com, karebethbaab@gmail.com, renjaniso12@gmail.com, awakimed@gmail.com



ABSTRAK

Dongeng dapat menstimulasi keinginan anak untuk membaca. Mereka akan tertarik dengan dongeng yang lain setelah mendengar sebuah dongeng. Setelah mendengar satu dongeng, seringkali anak kemudian tertarik untuk mendengar dongeng yang lain. Kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan buku sebagai salah satu “teman” yang mengasyikkan. Sering-sering mengajak anak ke toko dan membiarkan ia memilih bukunya sendiri, akan semakin membantu menumbuhkan minat baca pada anak. Manfaat lain dari mendongeng adalah membantu anak-anak memperkaya kosakata yang mereka miliki. Selain itu, mendongeng secara tidak langsung menjalin hubungan orang  tua dengan anak menjadi sangat dekat. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif yaitu untuk meningkatkan minat baca anak PAUD & TK An-Nur di Yayasan Anwarulqulub yang berlokasi di Kota Tangerang Selatan. Minat baca anak-anak saat ini belum menggembirakan. Peranan orang tua dan lembaga pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Untuk mewujudkannya diperlukan berbagai upaya agar anak-anak memiliki budaya gemar membaca. Salah satu upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak adalah dengan mendongeng. Pengembangan minat baca yang baik secara teoritis harus dimulai sejak dini mungkin pada masa anak-anak. Keluarga terutama orangtua mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam upaya mengembangkan perilaku gemar membaca pada diri anak-anak. Dalam hal ini, fungsi keluarga bukanlah semat-amata hanya melakukan fungsi reproduksi atau fungsi perlindungan, akan tetapi juga bertanggungjawab melakukan fungsi sosial, termasuk di dalamnya mendidik dan mengarahkan anak agar memiliki jiwa gemar membaca.


PENDAHULUAN

Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan masa emas (Golden Age) sekaligus masa kritis dalam tahap kehidupan manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar bagi kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai agama. Sehingga upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini harus dimulai agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan pada anak usia 0 hingga 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan atau stimulus pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan informal.

Anak usia dini memerlukan banyak sekali informasi untuk mengisi pengetahuannya agar siap menjadi manusia sesungguhnya. Dalam hal ini membaca merupakan cara untuk mendapatkan informasi karena pada saat membaca maka seluruh aspek kejiwaan manusia terlibat dan ikut serta bergerak. Hasilnya, otak yang merupakan pusat koordinasi bekerja keras menemukan hal-hal baru yang akan menjadi pengisi memori otak sekaligus menjadi bekal pertumbuhan (Adi Susilo,2011:13).

Membaca merupakan cara belajar mandiri untuk dapat memahami suatu pengetahuan. Pada dasarnya pengetahuan-pengetahuan yang ada di dunia ini berawal dari imajinasi dalam pikiran manusia, yang kemudian akan membentuk suatu teori. Imajinasi itu sendiri dapat berasal dari buku bacaan. Dengan membaca akan meningkatkan daya pikir dan daya imajinasi otak manusia serta mampu membuat masyarakat menjadi kreatif, kritis dan informatif. Salah satu upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan cara menumbuhkan minat membaca. Banyak orang yang menyebut “Buku adalah jendela dunia”, karena dengan membaca buku ibarat kita sedang membuka jendela untuk melihat berbagai keunikan yang terjadi hampir diseluruh penjuru dunia. Maka untuk memasuki dunia dengan segala panoramanya, orang harus bersahabat dengan buku.

Menstimulasi minat baca anak lebih penting daripada mengajarkan mereka membaca. Menstimulasi memberi efek menyenangkan, sedangkan mengajar seringkali justru membunuh minat baca anak, apalagi bila mengajarkannya dilakukan secara paksa (Musfiroh,2008:94). Secara psikologis, efek dari memaksa anak untuk belajar membaca di usia dini seperti TK dan PAUD dapat menimbulkan ketidaksukaan anak untuk membaca di masa depan serta menghambat pertumbuhan otak kanan anak, sehingga dapat membunuh kreatifitas anak.

Oleh sebab itu, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dapat memberi kesan pada anak bahwa mereka bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan dalam belajar. Metode sebaik apapun jika tidak didukung dengan suasana yang menyenangkan akan menyebabkan rasa malas bagi anak untuk belajar. Banyak metode-metode membaca yang rumit yang sering kali membuat anak putus asa karena mereka merasa kesulitan dalam mempraktekannya, sehingga malah menghilangkan optimisme dan minat baca anak.

Perlu diketahui bahwa terkadang minat baca terhambat oleh beberapa hal yang terdapat dari lingkungan yang tidak mendukung dan juga kurangnya fasilitas. Apalagi zaman sekarang pengaruh televisi, game online,dan gadged lainnya yang jika tidak dikontrol dan tidak ada pengawasan dari orang tua, maka dampak negatif yang ditimbulkan akan sangat besar pada perkembangan anak.

Banyak aspek perkembangan yang sedang berkembang pada anak usia dini, salah satunya adalah perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan anak. Perkembangan bahasa mencakup kemampuan menerima bahasa, mengungkapkan bahasa dan keaksaraan. Menurut Depdiknas (2002:12), bagi anak usia 5-6 tahun tingkat pencapaian perkembangan dalam mengungkapkan bahasa yang seharusnya dimiliki anak meliputi: mampu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap, memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekspresikan ide pada orang lain, serta mampu melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan.

Namun fakta yang terjadi tidak demikian. Menurut hasil wawancara yang dilakukan di PAUD & TK An-Nur (Yayasan Anwarulqulub), dari 36 siswa hanya 8 siswa yang mengalami tingkat pencapaian minat baca anak belum sesuai dengan yang diharapkan. Sementara 28 siswa diantaranya belum mencapai tingkat pencapaian perkembangan sebagaimana tersebut diatas. Anak masih belum mampu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, dan hanya mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana. Dalam berkomunikasi secara lisan dan menyusun kalimat sederhana pun anak masih belum lancar. Perbendaharaan kata yang dimiliki anak masih terbatas sehingga anak masih mengalami kesulitan dalam mengekspresikan ide atau mengutarakan pendapat.

Dalam menghadapi permasalahan diatas, anak supaya dibiasakan untuk membaca karena dengan membaca anak akan mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan serta menambah pembendaharaan kosa kata anak. Oleh sebab itu, minat baca perlu ditanamkan kepada anak sejak dini supaya hal itu menjadi kebiasaan dan akan terus dibawa oleh anak sepanjang masa. Untuk meningkatkan minat baca anak guru harus dapat memilih metode pembelajaran yang sesuai, karena pemilihan metode pembelajaran yang tepat mempunyai andil besar didalam meningkatkan kemampuan anak. Dalam menumbuhkan minat baca anak sejak dini diperlukan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, sehingga anak dapat termotivasi dan terangsang minat bacanya. Metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan yang dapat digunakan adalah metode bercerita dengan menggunakan buku cerita. Metode bercerita dengan menggunakan buku cerita ini diharapkan dapat membangkitkan keinginan anak dalam meningkatkan minat bacanya.

Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan, informasi atau hanya sebuah dongeng yang diperdengarkan dengan cara penyajian yang menarik. Sumber dari hal yang akan diceritakan bisa didapat dari buku atau dari yang lainnya. Bercerita merupakan kegiatan yang dapat diterapkan bagi anak-anak yang akan berdampak pada peningkatan minat baca anak, karena dalam bercerita anak dituntut untuk dapat menceritakan kembali isi dari bacaan tersebut.

Dalam kegiatan bercerita sebaiknya anak-anak juga didorong untuk menceritakan kembali apa yang telah dia ketahui dari buku yang telah dibacanya atau yang telah dibacakan oleh guru. Dengan demikian, selain dapat meningkatkan minat baca pada anak, proses bercerita yang demikian berperan positif dalam meningkatkan dan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Hal ini juga akan melatih kemampuan mental dan kemampuan bicara anak, terutama di depan orang banyak.

Berdasarkan uraian di atas tentang pentingnya menanamkan minat baca pada anak, maka penulis melakukan penelitian di Yayasan Anwarulqulub pada siswa-siswi PAUD & TK An-Nur Tahun Ajaran 2020/2021 yang memiliki masalah dengan minat baca. Banyak anak yang belum memiliki minat untuk membaca dan cenderung lebih suka bermainmain dan kurang semangat ketika guru mulai mengajak untuk belajar membaca. Oleh sebab itu, diperlukan metode yang tepat untuk menstimulasi anak guna meningkatkan minat baca pada anak. Metode bercerita ini diharapkan dapat membantu guru dalam menstimulasi minat baca pada anak. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul “Meningkatkan Minat Anak Melalui Dongeng”.

Berdasarkan penjelasan diatas penulis menyusun rumusan masalah yaitu apakah dongeng dapat meningkatan minat baca anak di PAUD / TK An-Nur dan bagaiman cara meningkatkan minat baca melalui dongeng anak di PAUD / TK An-Nur. Selanjutnya tujuan pada penelitian ini adalah menjelaskan dongeng dapat meningkatkan minat baca anak di sekolah PAUD & TK An-Nur dan menjelaskan cara meningkatkan minat baca melalui dongeng anak di PAUD / TK An-Nur.


METODE PENELITIAN

Dalam rangka mengkaji permasalahan penelitian meningkatkan minat  baca anak pada anak didik PAUD & TK di Yayasan Anwarulqulub Kota Tangerang Selatan, maka dalam bab ini akan dijelaskan metode yang digunakan dalam penelitian ini dari mulai jenis dan pedekatan penelitian, sumber data, penentuan lokasi dan waktu penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data hingga menganalisis data.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian analisis deskriptif, yakni penulis menjelaskan sesuatu seperti apa adanya. Penelitian  ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian dengan menganalisis obyek alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci dan menyajikan apa  adanya. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mengetahui lebih mendalam bagaimana sekolah PAUD & TK di Yayasan Anwarulqulub Kota Tangerang Selatan dalam meningkatkan minat baca anak didiknya. Dengan pendekatan kualitatif ini peneliti diharapkan mampu menggali fakta-fakta yang ada dilapangan secara apa adanya atau alamiah. Melalui penelitian model ini, peneliti nantinya akan melakukan eksploratif terhadap suatu obyek yang dituju dengan memahami makna dibalik data yang tampak sehingga nantinya dapat langsung berinteraksi sosial serta memahami perasaan informan untuk dapat mengembangkan teori dan memastikan kebenaran data.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Meningkatkan Minat Baca

Menceritakan dongeng pada anak adalah salah satu cara menumbuhkan minat baca pada anak, itulah cara yang kita ambil dalam menumbuhkan minat baca pada PAUD/TK Annur. di sana kita mengenalkan dongeng melalui cerita fabel, yaitu cerita tentang seekor buaya yang memiliki sifat serakah,yang ingin memakan apapun disana.

Kita melihat antusiasme anak-anak dalam mendengarkan cerita, ada yang berteriak menirukan suara binatang, ada yang bertanya tentang hewan yang di ceritakan bahkan ada yang maju kedepan untuk meragakan hewan tersebut.

Dengan menggunakan gambar-gambar hewan yang kami buat kami memciptaan suasana yaang fun bagi anak-anak dalam belajarnya, kami memberikan pertanyaan – pertanyaaan mengenai hewan tersebut, sebelumnya banyak sekali anak-anak yang belum mengetahui macam hewan yang kami sebutkan, melalui gambar tersebut kami mengenalkan hewan tersebut satu persatu sehingga mereka akhirnya mengetahui dan mereka pun sangat antusias dalam menyebutkan nama-nama hewan-hewan tersebut.

Di tengah berdongeng kita menyisipkan huruf-huruf yang bisa mereka kenali sehingga menjadi suatu kata, sebagai contoh sedang menceritakan sapi, di situ kita meminta mereka untuk mengulang huruf S – A – P – I, seperti itu dan seterusnya hinga mereka menyenangi membaca lewat cerita dongeng tersebut.

Anak-anak mengulang huruf demi huruf sehingga mereka tahu huruf apa saja yang di gunakan oleh hewan-hewan yang kami ceritakan. Sambil menirukan bunyi hewan tersebut mereka maju kedepan satu persatu menggunakan gambar tersebut sebagai media nya, yang maju kedepan matanya di tutup lalu disuruh memilih gambar hewan, lalu gambar yang telah di pilih mereka akan memperagakan serta bersuara seperti hewan yang terdapat paada gambar.

Di akhir pertemuan kami mengevaluasi dengan cara memberi tebak-tebakan nama hewan serta huruf-huruf yang di gunakan untuk memanggil hewan tersebut, serta kami juga memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang kosakata-kosakata yang tadi kami sebutkan ketika mendongeng. Dan kami juga memberikan hadiah kepada anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami.


Bermain Tebak - tebakan


Mendengarkan Dongeng

Manfaat Mendongeng

Peningkatan minat baca hendaknya dimulai sejak usia dini, untuk menanamkan kebiasaan. Salah satu cara meningkatkan minat baca adalah dengan cara mendongeng. Budaya mendongeng untuk anak saat akan tidur sudah mulai luntur dewasa ini. Padahal dengan mendongeng, kita dapat mengenalkan nilai-nilai atau norma-norma dalam berkehidupan di bawah alam sadar anak-anak. Melalui karakter yang ada dalam dongeng, anak-anak diajarkan tentang nilai kebaikan, rasa empati, tolong menolong dan sebagainya. Dongeng adalah budaya lisan yang disampaikan secara turun temurun yang berkembang di masyarakat. Sebagai bentuk folklore, dongeng dapat membantu anak-anak untuk berimajinasi. Dengan imajinasi anak-anak mampu berpikir kreatif dan belajar berkomunikasi dengan orang lain.

Dongeng juga dapat menstimulasi keinginan anak untuk membaca. Mereka akan tertarik dengan dongeng yang lain setelah mendengar sebuah dongeng. Pada kesempatan ini kita dapat mengenalkan anak-anak bukubuku cerita yang berisi dongeng, dengan begitu diharapkan akan menjadi suatu habituasi membaca. Setelah mendengar satu dongeng, seringkali anak kemudian tertarik untuk mendengar dongeng yang lain. Kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan buku sebagai salah satu “teman” yang mengasyikkan. Sering-sering mengajak anak ke toko dan membiarkan ia memilih bukunya sendiri, akan semakin membantu menumbuhkan minat baca pada anak. Manfaat lain dari mendongeng adalah membantu anak-anak memperkaya kosakata yang mereka miliki. Selain itu, mendongeng secara tidak langsung menjalin hubungan orang tua dengan anak menjadi sangat dekat.

Untuk merealisasikan peningkatan minat baca melalui metode mendongeng, maka telah disusun sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa PKM dan dosen pendamping. Mahasiswa terlibat dalamkegiatan belajar mengajar di PAUD & TK An-Nur dengan menyampaikan cerita-cerita rakyat yang dilanjutkan dengan membahas nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut. Kemudian diakhiri dengan pemberian kuis untuk mengawal daya simak anak.

Strategi pembelajaran dengan menggunakan metode dongeng pada program PAUD& TK merupakan salah satu metode yang efektif untuk mendidik anak usia dini. Tujuannya untuk merangsang kemampuan anak berimajinasi, suka menyimak, mendengarkan, memperhatikan lawan bicaranya, dan bisa menumbuh budaya baca pada anak. Sebuah dongeng bisa merangkum berbagai fungsi, yaitu sebagai media penyampai pesan dan nilai, penambah pengetahuan dan pengalaman batin, serta membantu proses identifikasi diri dan perilaku anak.

Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran melalui metode dongeng, anak atau peserta didik diharapkan aktif dan kreatif sedangkan peran pendidik adalah sebagai fasilitator, observer, motivator, dan evaluator. Artinya pendidik berperan memberikan dukungan dan bimbingan mulai dari penataan lingkungan (sebelum, selama, dan sesudah pembelajaran atau mendongeng) sampai pelaksanaan dan evaluasi hasil. Pelaksanaan kegiatan mendongeng dengan menggunakan sebuah gambar berbentuk hewan pada saat anak berkumpul, pendidik dapat mengkondisikan anak agar tenang, menyanyikan lagu anak-anak dan bermain tepuk bervariasi.

Kami menyampaikan aturan main sebelum mendongeng dengan cara yang menyenangkan, misalnya dengan meminta kesepakatan anak tentang aturan, sikap dan perilaku anak pada saat mendengarkan dongeng. Pendidik bersama anak menyepakati atau menetapkan aturan-aturan permainan.

Pendidik dapat menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tema dan isi dongeng yang akan disajikan sesuai pengalaman anak.

Pendidik mengenalkan tokoh-tokoh dongeng agar anak dapat memahami alur, isi, dan karakter masing-masing tokoh dongeng. Proses selama mendongeng pendidik menyajikan dongeng sesuai dengan rencana pembelajaran atau skenario yang telah disusun.

Kami memberikan anak untuk menyimak dan memahami isi dongeng dengan melontarkan pertanyaan sederhana agar anak merasa dilibatkan dalam dongeng yang disajikan. Pendidik melanjutkan kegiatan sambil memperhatikan sikap dan perilaku anak saat didongengkan.

Kami menyampaikan hikmah yang dapat dipetik oleh anak sebagai wujud penyampaian pesan moral kepada anak dari dongeng yang disajikan.

Kami memberi dukungan dan bimbingan berupa pertanyaan positif tentang isi dongeng dan apa yang harus dilakukan anak dalam kegiatan sehari-hari baik disekolah atau dirumahnya, memancing dengan pertanyaan terbuka untuk merangsang perkembangan anak, serta memberikan bantuan pada anak yang membutuhkan. Dari pelaksanaan kegiatan mendongeng dengan menggunakan alat bantu gambar ini diterapkan guna untuk memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan dan kecerdasan anak.


SIMPULAN

Minat baca anak-anak saat ini belum menggembirakan. Peranan orang tua dan lembaga pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Untuk mewujudkannya diperlukan berbagai upaya agar anak-anak memiliki budaya gemar membaca. Salah satu upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak adalah dengan mendongeng.

Pada dasarnya dongeng mengandung nilai-nilai positif bagi kehidupan, karena didalamnya terkandung tuntutan moral dan etika. Kegiatan mendongeng (bercerita) merupakan salah satu upaya atau teknik untuk menumbuhkan minat baca pada diri anak-anak. Orangtua atau kanggota keluarga lainnya maupun pihak-pihak lain dapat berperan sebagai penutur dari buku-buku yang dibacanya dan sudah barang tentu materi dongeng disesuaikan dengan tingkat perkembangan bahasa dan usia anak.

Kegiatan mendongeng akan lebih efektif bilamana disampaikan atau diceritakan pada saat menjelang tidur, pada saat-saat santai kumpul keluarga, atau dapat juga diberikan menjelang dan sesudah pelajaran di kelas. Pembacaan dongeng harus dilakukan sedemikan rupa sehingga anak-anak tersedot ke dalamcerita tersebut. Bila kegiatan tersebut dilakukan secara baik, terus menerus, lambat laun akan timbul keinginan anak untuk membaca sendiri buku-buku tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Ani Sistarina. “Peningkatan Minat Baca dan Gemar Membaca.” Docplayer. Diakses 11 April 2021.                   (http://docplayer.info/43992061-Peningkatan-minat-baca-dan-gemarmembaca.html).

Artana, I Ketut . 1997. Masih Pentingkah Kita Mendongeng. Artikel pada Singa Manggala Singaraja, Bali , Edisi Mg.III-IV Februari 1997.


Artana, I Ketut. 1997. Mendidik Anak dengan Dongeng. Artikel pada Singa Manngala, Singaraja Bali, edisi Mg.III-IV Nopember 1997.


Bimo. 2011. Mahir Mendongeng. Yogyakarta: Pro-U Media.


Dantes, Nyoman, dkk. 2016. Pengembangan Buku Dongeng Berbasis Budaya Lokal untuk Memfasilitasi Pembelajaran Tematik dalam rangka Optimalisasi Pendidikan Sikap dan Literasi Dini.


Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pusaka Utama.


Hari Karyono. “Menumbuhkan Minat Baca Sejak Usia Dini.” digilib.um.ac.id. Diakses 11 April 2021. (http://digilib.um.ac.id/index.php/Jurnal-PerpustakaanSekolah/menumbuhkan-minat-baca-sejak-usia-dini.html).


Harususilo, Yohanes Rnggar. (2018). 6 Manfaat Mendongeng untuk Anak. Diakses 12 April 2021. (https://edukasi.kompas.com/read/).


Kamah, Idris. 2002. Pedoaman Pembinaan Minat Baca. Jakarta: Perpustakaan RI


Koentjaraningrat. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


Muhammad Yaumi. “Upaya Menumbuhkan Minat Baca Anak dalam Era   Digitalisasi.” Scribd. Diakses 11 April 2021. (https://www.scribd.com/doc/32031005/Upaya-Menumbuhkan-MinatBaca- Anak-di-Era-Digitalisasi).


Savira Anchatya Putri. “Peningkatan Minat Baca Dan Budaya Baca Masyarakat: Upaya Forum Indonesia Membaca Dalam Bersinergi Menuju Masyarakat Melek Informasi.” (Skripsi, Universitas Indonesia, 2010).  Diakses 12 April 2021. (https://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20160927RB13S42pePeningkatan%20   minat.pdf).

Som, Witakania S. dkk. (2006). Sastra dan Minat Baca pada Siswa SMAN Tanjungsari. Laporan Penelitian DIPA PNBP. Jatinangor : Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran.

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Kajian Seni “Pertunjukan Lenong Denles. Teater tahun 2021

Kumpulan Cerpen Karya Anak Bangsa

ASPEK NILAI-NILAI BUDAYA MAKASSAR DALAMKARAKTER TOKOH PERTUNJUKAN TEATER “THE EYES OF MAREGE”